Kamis, 24 Oktober 2013

Kultur Kiri dan Rintihan Kelinci

Malam minggu malam ramai setiap penjuru yang biasa biaskan hitam jadi kelabu. 31 Desember 2011 tepatnya saat ku menanti pergantian malam tahun baru.  Malam itu banyak kumbang ramai bercumbu dengan mawar merah laksmi tepi jurang, tetapi sayang mawar telah tak berduri, nilai sakral jadi lumrah, norma hiraukan saja  untuk dapatkan nirwana fana !.
Bosan ku mendengar tentang itu dan hanya bisa termenung dengan kabut putih yang dinginkan pikiran. Baru saja duduk di bangku panjang trotoar itu seorang tua renta dengan wajah memelas karena nampaknya hati tertindas oleh kartotek. Berpikir sejenak seraya bertanya pada nurani kenapa istana puncak tak peduli pada nasibnya ? apakah mungkin nilai dan arti telah profane ?.
“kenapa wajahmu memelas dengan tubuh yang lemas ?” tanyaku. “memelas berharap sangat tuan memberi sedikit kasih tuk jiwa yang tak berdaya, tubuh lemas karena suara yang mulai fals sampai ku bernyanyi tak akan nada orang yang mau mendengar. Sekiranya tuan dapat membantu bernyanyilah untuk golongan kami !” jawabnya.
Bingung dengan jawabannya bukan tak mau tapi diri ini juga hanya sebatas crew dalam gempita parade dan drama negeri ini. Apa yang harus ku lakukan ?.








                                                                                                          By : Duse Berkarat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar