Malam minggu malam ramai setiap penjuru yang
biasa biaskan hitam jadi kelabu. 31 Desember 2011 tepatnya saat ku menanti
pergantian malam tahun baru. Malam itu
banyak kumbang ramai bercumbu dengan mawar merah laksmi tepi jurang, tetapi
sayang mawar telah tak berduri, nilai sakral jadi lumrah, norma hiraukan
saja untuk dapatkan nirwana fana !.
Bosan ku mendengar tentang itu dan hanya
bisa termenung dengan kabut putih yang dinginkan pikiran. Baru saja duduk di
bangku panjang trotoar itu seorang tua renta dengan wajah memelas karena
nampaknya hati tertindas oleh kartotek. Berpikir sejenak seraya bertanya pada
nurani kenapa istana puncak tak peduli pada nasibnya ? apakah mungkin nilai dan
arti telah profane ?.
“kenapa wajahmu memelas dengan tubuh yang
lemas ?” tanyaku. “memelas berharap sangat tuan memberi sedikit kasih tuk jiwa
yang tak berdaya, tubuh lemas karena suara yang mulai fals sampai ku bernyanyi
tak akan nada orang yang mau mendengar. Sekiranya tuan dapat membantu bernyanyilah
untuk golongan kami !” jawabnya.
Bingung dengan jawabannya bukan tak mau tapi
diri ini juga hanya sebatas crew dalam gempita parade dan drama negeri
ini. Apa yang harus ku lakukan ?.
By
: Duse Berkarat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar