Kamis, 24 Oktober 2013

Karma

Tindas, tusuk hati nurani, goyahkan iman, putarkan pikiran, musnahkan teman, hapus persahabatan, hantamkan pukulan. Kuasai dunia dengan sebuah kartotek yang ku cipta. Waktu berlalu tanpa ku sadari jamanpun berganti, ego tinggi dengan sayap kanan dan kiri, puaskan nafsu balaskan dendam ! Waktu menghentak berontak serentak jatuh diri tanpa hormat.
Sesal karena penyesatan, karsa setan jadi buaian. Bias, abstrak semua hanya introspeksi dan penitensi yang dilakukan, berharap cahaya datang membawa kedamaian.Ma’afkan ku kawan atas segala karti yang tersurat ! Ku sadar itu salah karena ku manusia dan bukanlah tuhan. Ku harap kau merangkulku kejalannya.  



Kultur Kiri dan Rintihan Kelinci

Malam minggu malam ramai setiap penjuru yang biasa biaskan hitam jadi kelabu. 31 Desember 2011 tepatnya saat ku menanti pergantian malam tahun baru.  Malam itu banyak kumbang ramai bercumbu dengan mawar merah laksmi tepi jurang, tetapi sayang mawar telah tak berduri, nilai sakral jadi lumrah, norma hiraukan saja  untuk dapatkan nirwana fana !.
Bosan ku mendengar tentang itu dan hanya bisa termenung dengan kabut putih yang dinginkan pikiran. Baru saja duduk di bangku panjang trotoar itu seorang tua renta dengan wajah memelas karena nampaknya hati tertindas oleh kartotek. Berpikir sejenak seraya bertanya pada nurani kenapa istana puncak tak peduli pada nasibnya ? apakah mungkin nilai dan arti telah profane ?.
“kenapa wajahmu memelas dengan tubuh yang lemas ?” tanyaku. “memelas berharap sangat tuan memberi sedikit kasih tuk jiwa yang tak berdaya, tubuh lemas karena suara yang mulai fals sampai ku bernyanyi tak akan nada orang yang mau mendengar. Sekiranya tuan dapat membantu bernyanyilah untuk golongan kami !” jawabnya.
Bingung dengan jawabannya bukan tak mau tapi diri ini juga hanya sebatas crew dalam gempita parade dan drama negeri ini. Apa yang harus ku lakukan ?.








                                                                                                          By : Duse Berkarat

Revolution for Freedom

crawl in grief, struggling to change the destiny
solitude in fatigue, the sense of a struggle for life
could not let go of this belief
because faith is real

I wanted to change all black chains
want to erase dark shadows
because I know this is wrong, because I know this is false
vicious bastard, accursed devil

This change in the real world for freedom
my dark memories of past waste, because the black
let it pass because of soul consciousness that comes
let the man come to eternal life

This satisfaction will not disappear
because this is a step and mental effort
waiting for hope, hope it comes
leave anxiety, come up with excitement

one step is sure to change
waiting for one hope, one joy will come
a breath would blow, to breathe the sweetness of faith
I can, I believe all that there is


Syurga Metafora Dari Dunia Fana

Lima dan lima berubah jadi rasa manis setelah-nya Sembilan yang ku dapat waktu itu. Beribu tetes air yang membasahi tubuhpun menjadi terasa hangat tatkala bola hitam putih mengeluarkan air asin di depan satu nama.
Sirkulasi kecemasan berputar dari karti yang biasa diperbuat, ingin sekali rasa-nya melontarkan sebuah petuah dari mulut hitam yang tercipta. Karsa mahkota tersirat dalam benak tuk perbaiki satu organ yang terbiasa dengan beban organ lain.
Demi gelora perjumpaan antara venus dan mars yang sesaat lagi akan meregenerasi satu hal yang biasa kita simbolkan dengan sunrice dan sunset, hangat-nya satu dekapan lilin kecil yang hiasi langit kelabu Tasikmalaya waktu itu. Rantai pertanyaan jerat jiwa dalam hidupku akan ada-nya eksistensi penjara tanpa terali dan  paradigma dari satu sel sperma alam ruh.
Bukan saat-nya berkilah dengan metode bias hitam jadi kelabu (bermini kata) tapi tampakanlah apa ada-nya.
I REALLY LOVE YOU...
 For : I and R
                                                     By: Duse Berkarat


Derita Kita

Keadaan yang butakan kita
Pangkat dan jabatan adalah segalanya
Musnahkan aturan yang ada
Demi kebebasan semata

Lahirnya bentuk ketidak jelasan
Buat kita semakin tak berdaya
Keadilan yang dulu tercipta
Kini telah tiada

Yang tersisa hanyalah derita
Manufacture kehidupan baru
Putus asa hal yang sia-sia
Tak ada manusia yang sempurna

R---       Kau kira kau sang penguasa
            Kau sangka dirimu perkasa
            Bukan takut bukan tak berani
            Hormat kila dalam hati

Petuah kosongmu
Selalu buatku jemu
Racun hidupmu
Yang bunuh batinku



Goresan Pena Realita

    Hidup dari hidup-ku, karti seni nafasku, dalam penat alur takdir-ku, menghiasi kertas putih            duniaku. Beri sedikit waktu untuk bersendagurau bersama nama-mu, apa yang akan ku ceritakan        kelak pada-mu bukanlah satu pretensi untuk mendistorsi makna dari hidup-ku.

Hidup dari hidup-ku, kabut dalam bingkai alam transidental dapat biaskan tangis jiwa-ku, tapi            langitkan terus biru selama malam belum selimuti cahaya-nya. Alunan nada syahdu kuatkan tekad-      ku untuk terus maju.

Hidup dari hidup-ku, penjara tanpa terali goyahkan keyakinan-ku, tapi bisikan hati kecil-ku takan menuruti apapun doktrin dogma mu. Surya takan pernah berdusta berapa kali ia berputar mengelilingi    bukti eksistensi-nya.

Hidup dari hidup-ku, janji-ku dulu adalah tanggung jawab-ku, berapa kali ku ingat dan berapa kali ku lupa tuhanlah yang lebih tahu. Sayap di punggungku membentangkan apa yang menjadi diri pribadi-    ku.





                                                                                                                                                       By          : Asep Muhamad Ramdhan