Selasa, 12 April 2016

Profil Drs. KH. Shiddiq Amien, MBA

KH. Drs. Shiddiq Amien, MBA
middle_15FIL5565.JPGKH.Shiddiq Amien adalah seorang intelektual dan ulama ternama dalam jajaran jamiyyah Persatuan Islam (PERSIS). Sebagai ulama beliau mampu membawa jamiyah Persis ke level mengagumkan. Dan sebagai seorang intelektual muda, beliau mampu menyatukan tradisi keulamaan dan keintelektualan secara sinergis, dengan harmonisasi yang cukup terintegritas dalam satu wawasan berfikir yang matang.
Shiddiq Amien adalah pelanjut tokoh Persis yang mampu melanjutkan peralihan dari tradisi lama menjadi tradisi baru, dari wajah Persis yang eksklusif dan tertutup menjadi terbuka, toleran, dan adaptif terhadap segala permasalahan. Beliau mampu menjadi jembatan pemahaman antara kalangan santri dan kaum akademis.
KH.Shiddiq Amien, nama aslinya Shiddiq Aminullah lahir di Tasikmalaya, tepatnya di kampung Benda Kecamatan Cipedes, tanggal 13 Juni 1955, dan meninggal dunia pada hari Sabtu, 31 Oktober 2009, di Rumah Sakit Al-Islam, Bandung. Ayah sekaligus gurunya bernama KH.Ustman Aminullah dan ibunya bernama Hj.E.Hamidah. Ayah beliau adalah salah seorang murid A.Hassan atau Ahmad Hassan. guru utama Persis, disamping itu KH. Utsman Aminullah merupakan pendiri dari Pesantren Persis 67 Benda. Tidak heran jika ketekunan untuk mempelajari agama Islam mengalir kepada anaknya.
RIWAYAT PENDIDIKAN
·         SDN Benda – Jl. Cisalak Tsm (thn. 1968)
·         Diniyyah Ula Pesantren Persis Benda – Tsm (thn. 1968)
·         SMPN-3 Jl. Merdeka No. 17 – Tsm (thn. 1972)
·         SMAN-1 – jl. RSU No. 28 – Tsm (thn. 1974)
·         Mu’allimien ( MA) – jl. Pajagalan no. 14 – Bdg (thn 1976)
·         ABA Pasundan – Tasikmalaya (thn. 1979)
·         STBA Yapari – jl. Cihampelas No. 194 – Bdg (thn. 1988)
·         DLI – Jakarta – jl. Gatot Subroto Kav.56 – Jakarta (thn. 1999)
RIWAYAT BERORGANISASI
·         Ketua Bidang Kepustakaan OSIS SMPN-3 Tasikmalaya (thn. 1971)
·         Ketua bidang Kerohanian OSIS SMAN-1 Tasikmalaya (thn. 1974)
·         Ketua Umum RG Pesantren Persis NO 1 Pajagalan Bandung (thn. 1976)
·         Anggota Bidang Rohani Senat Mahasiswa STBA Yapari Bandung (thn. 1987)
·         Anggota Pemuda Persis Cab. Tasikmalaya (thn. 1977)
·         Sekretaris PC Persis Cipedes – Tsm (1977-1984)
·         Ketua Pimpinan Daerah Persis Tasikmalaya (1984 –1990)
·         Ketua Bid. Jamiyyah PP Persis (1990-1997)
·         Ketua Umum PP Persis (1997 – 2009)
·         Anggota Dewan Penasihat MUI Pusat (1998 – 2009)
·         Anggota MPR RI Fraksi Utusan Golongan (1999 – 2004)
RIWAYAT PEKERJAAN
·         Guru / Pimpinan Pesantren Persis Benda (1997-2009)
·         Dosen STAIPI Persis – jl. Ciganitri – Bandung ( 1995 – 1997)
·         Dosen Prog. Bidan Depkes – Tsm (1994 – 1997)
·         Dosen AKPER Depkes Tsm (1995 – 1996)
·         Komisaris Utama BPRS Amanah R Bandung (1997 – ‏2000)
·         Komisaris Utama PT Karya Imtak – Bandung (1997)
·         Anggota Dewan Syariah BPRS Al-Wadiah Tsm (1998 – 2000)
·         Anggota Dewan Pengawas Syari’ah Bank BTPN (2008)
·         Anggota MPR RI fraksi utusan golongan (1999-2004)
KARYA TULIS
Selama kariernya sebagai ulama, beliau pernah menulis beberapa buku islam, diantaranya :
1.         Presiden Wanita dalam Pandangan Islam (Penerbit, PERSIS Pers, 2001)
2.         Islam dari Aqidah hingga Peradaban (Penerbit, Suluh, 2010)
3.         Keluarga Berencana dalam Pandangan Islam (Penerbit, PERSIS Pers, 2001)


Orientasi Dakwah Islam di Indonesia

SEJARAH DAKWAH
ORIENTASI DAKWAH ISLAM DI INDONESIA

Disusun oleh :
Asep Muhamad Ramdhan
1134010016
BKI II A
FAKULTAS DAKWAH dan KOMUNIKASI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG

1.      Pengertian Dakwah
Dakwah meurut istilah adalah panggilan, ajakan, atau seruan. Sedangkan dakwah menurut istilah adalah menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu, dengan proses yang berkesinambungan dan ditangani oleh para pengembang dakwah. Hal ini dikarenakan Islam adalah dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah.

2.         Tujuan dakwah
Tujuan dakwah islam adalah salah satu bentuk iktiar muslim untuk mewujudkan islam dalam dimensi :
a.       Pribadi (Fard)
b.      Keluarga (Ushrah)
c.       Kelompok Sosial (Jama’ah)
d.      Masyarakat (Umat)
Agar terwujud khoiru ummat, adapun dua dimensinya yakni :
a.       Dimensi Risalah : Menjadikan islam sebagai sumber nilai
b.      Dimensi Rahmat : Menjadikan islam sebagai sumber konsep
Pada tataran normatif islam merupakan kriteria kebenaran absolut yang bersifat transidental, namun untuk dapat beroprasi sebagai acuan aksiologis, sebenarnya konsep-konsep normatif islam yang berakar pada wahyu ini dapat diturunkan ke dalam dua medium; yakni medium ideologi dan medium ilmu.
3.         Kiprah ORMAS dalam dakwah islam di Indonesia
Ormas islam merupakan lanjutan perjuangan umat dalam proses dakwah sebelumnya, maka mereka membawa wawasan baru dalam bidang keagamaan dan kemasyarakatan.
Pembaharuan yang dimaksud tidak hanya dari segi intelektual, tetapi juga cara dan pendekatan perjuangan dakwah islam yang berbeda dengan cara yang ditempuh pada periode sebelumnya.
Ormas islam ini bergerak di bidang pendekatan pendidikan, sosial, budaya, dan politik. Pada awalnya ormas islam ini enggan bercampur dengan masalah-masalah politik, namun pada tahun 1952 NU dan ormas islam lainnya menyatakan sebagai partai politik.



DAFTAR PUSTAKA

RS, Syamsuddin. H.,  2013, Sejarah Dakwah. Bandung : Penerbit Insan Komunika


Hakikat Baik

HAKIKAT BAIK
Disusun Oleh :
Asep Muhamad Ramdhan
1134010016
BKI III A
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur ke hadirat ALLAH SWT karena atas kehendak-nya, penyusunan makalah yang merupakan salah satu tugas ujian tengah semester berjudul HAKIKAT BAIK dapat diselesaikan. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi ujian tengah semester.
Dalam penyusunan makalah ini, banyak sekali kesulitan yang dihadapi, tetapi berkat dorongan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada :
1.      Kedua orangtua yang selalu memberikan dorongan berupa moril maupun materi.
2.      Rekan-rekan seperjuangan yang telah memberikan cerita indah di salah satu episode hidup penulis.
Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulis menyatakan bahwa makalah yang merupakan ujian tengah semester ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir kata penulis berharap makalah ini dapat bermanfa’at bagi semua pihak yang menggunakan. Amien.

ا لله يأ خذبأ يدنا إ لي ما فيه خير  للإسلام وا لمسلميـن



                Bandung,   November 2014 M
                                                                                       
                                                                                                            Penulis,  
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Dalam setiap agama, budaya, dan yang lainnya memiliki aturan hidup yang harus dijalankan atau dipatuhi oleh setiap individu yang menganut, memeluk, atau berada dalam wilayah agama atau budaya tersebut. Aturan yang dibuat tersebut dianggap sesuatu yang baik berdasarkan pengalaman, pemikiran ataupun wahyu yang telah diturunkan oleh sang MAHA PENCIPTA.
Dengan kata baik tersebut, penulis tergugah untuk mengkaji, membongkar, serta menjabarkan kata tersebut dalam kajian filsafat. Maka dari itu penulis  membuat satu makalah yang berjudul HAKIKAT BAIK.
1.2  Rumusan Masalah
Supaya lebih menuju pada permasalahan-nya agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penulisan karya tulis ini, maka penulis mencoba membatasi masalah-nya dengan perumusan sebagai berikut :
1.      Apa definisi baik ?
2.      Apa pendapat para ahli tentang hakikat baik ?
3.      Bagaimana pandangan hakikat baik filsafat barat ?
4.      Bagaimana pandangan hakikat baik menurut islam ?
1.3  Tujuan penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam penyusunan karya tulis ini adalah :
1.      Untuk mengetahui definisi baik
2.      Untuk mengetahui pendapat para ahli tentang hakikat baik
3.      Untuk mengetahui pandangan hakikat baik dalam filsafat barat
4.      Untuk mengetahui pandangan hakikat baik menurut islam

1.4  Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini penulis menggunakan bibiliografi atau metode kepustakaan melalui beberapa langkah, diantara-nya :
Langkah pertama : Mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan bahasan
Langkah kedua    : Mengklasifikasi bahan
Langkah ketiga: Menganalisa sejumlah buku dan hadits yang berkaitan                                                  dengan masalah-masalah yang dibahas.




BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Definisi baik
Menurut kamus besar bahasa Indonesia baik adalah elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb); sedangkan kata baik dalam bahasa inggris dapat di definisikan sebagai kualitas yang bernilai positif terutama yang cocok untuk hal-hal tertentu; dan dalam bahasa arab adalah khair mengandung arti segala sesuatu yang didalamnya terkandung kebaikan dan membawa manfaat bagi manusia, baik dalam masalah agama maupun urusan duniawi. Lawannya adalah syarr yang biasa diterjemahkan dengan keburukan.
Sedangkan menurut istilah baik adalah segala segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan, dan disukai manusia. Kesempurnaan, keharuan, kepuasan, kesenangan, kesesuaian, kebenaran, kesesuaian dengan keinginan, mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang dan bahagia dan yang sejalan dengan itu adalah merupakan sesuatu yang dicari dan diusahakan manusia, karena semuanya itu dianggap sebagai yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

2.2  Pendapat Para Ahli
Ada beberapa pendapat para ahli terutama filusuf adri dunia barat dan dunia islam dalam mendefinisikan kata baik, antara lain :
1.      Spencer
baik adalah apa yang membuktikan diri bermanfaat dalam evolusi, mengacu pada cinta personal merupakan kebaikan moral tertinggi;

2.      George Edward Moore
Berfikir tentang moralitas tampa menjelaskan terlebih dahulu arti kata “baik” yang paling sentral, hanya akan akan menghasilkan kerancuan belaka. Baik tidak dapat di definisikan;
3.      Hombay
Baik itu dapat berarti sesuatu yang mendatangkan kepuasan;
4.      Websters
Baik itu adalah yang mendatangkan rahmat, dan memberikan perasaan senang atau bahagia;
5.      Ahmad Charris Zubair
Baik itu jika tingkah laku manusia menuju kesempurnaan, nilai apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi sesuatu positif yang konkret.
6.      Immanuel Kant (1734- 1804)
baik adalah sesuatu yang bernilai positif pada dirinya, tanpa pamrih, tanpa syarat.
2.3  Hakikat Baik Persfektif Filsafat Barat
Kattsof dalam buku nya menggambarkan pemikiran Socrates dengan membuat beberapa pernyataan terhadap suatu pemahaman tentang hakikat baik, yakni :
Pembelian ini baik
Ia orang baik
Ini pisau baik
Kiranya baik menjadi orang sehat
Hendaknya dicatat bahwa kalimat yang terakhir dapat kita ubah bentuknya menjadi kesehatan merupakan sesuatu yang baik, tetapi kalimat-kalimat yang lain tidak dapat kita ubah secara demikian. Misalnya jika dikatakan ini pisau baik, sudah pasti yang saya maksudkan berbeda dengan apabila dikatakan pisau merupakan sesuatu yang baik. Dalam hal ini kesehatan itu dalam dirinya sudah mengandung unsur kebaikan; sedangkan pisau dikatakan baik karena dapat menjadi alat untuk melakukan sesuatu.
Kata baik dipakai dalam arti yang berbeda-beda dalam masing-masing pernyataan diatas. Masalahnya akan bercampur aduk jika berbagai penggunaan istilah baik tersebut diberi makna yang setara.  Kecuali jika dapat menunjukan memang ada inti makna yang sama yang terdapat dalam segenap penggunaan tadi. Seseorang baru saja membeli kursi dan seseorang temannya setelah mendengar berapa pembayaran untuk itu kemudian mengatakan suatu pembelian yang baik.yang dimaksudkan teman tadi ialah bahwa jumlah uang yang anda bayarkan untuk membeli kursi tersebut sesungguhnya lebih rendah dibandingkan dengan nilai kursi itu yang sebenarnya. Dengan kata lain pembelian yang baik merupakan pembelian yang didalamnya nilai uang yang dibayarkan lebih rendah dibandingkan dengan nilai barang yang dibelinya.
Contoh-contoh diatas adalah suatu perumpamaan mengenai tanggapan penilaian yang kesemuanya bersifat positif. Sesungguhnya nilai merupakan pengertian yang lebih luas ruang lingkupnya dibandingkan pengertian yang baik, dan pengertian tersebut menyangkut perangkat suatu hal yang disetujui dan tidak disetujui.
2.4  Hakikat Baik Persfektif Islam
Ada beberapa pernyataan yang mampu menggambarkan hakikat baik dalam pandangan islam menurut Mulla Sadra, antara lain :
Tidak mengerjakan amalan sunat itu baik, tetapi mengerjakan itu baik
Merokok itu baik, merokok itu baik
Dalam pernyataan tersebut Mulla Sadra menjelaskan tentang hakikat baik itu adalah sesuatu yang ada tandingan yang lebih baik. Perbuatan baik selamanya tidak akan pernah menimbulkan kerugian bagi manusia. Justru seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman, beramal sholeh, benar, sabar dan selalu saling menasihati. Artinya tanpa perbuatan baik, manusia akan merugi. suatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan yang memberikan kepuasan. Yang baik itu juga dapat diartikan sesuatu yang sesuai dengan keinginan. Dan disebut baik itu juga dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkankan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia.



BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pada dasarnya baik atau hakikat baik ini adalah sesuatu yang mendatangkan kepuasan, kesempurnaan, apa yang diharapkan, mendatangkan rahmat dan memiliki nilai (Value) yang berguna.
Ada titik temu antara filsafat barat dengan filsafat Islam dalam hakikat nilai ini lebih khususnya pada nilai guna atau kesempurnaan sesuatu yang memiliki kandungan atau unsur kebaikan didalamnya. Seperti beberapa contoh yang dikemukakan pada pembahasan.
Namun perbedaannya dalam segi pemikiran filsafat Islam mengacu pada ayat-ayat, dan hadits-hadits yang menjadi landasan pemikirannya.



DAFTAR PUSTAKA
Ali Nurdin dalam Qur’anic Society hal 176
H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawwuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo 2000). Hal 102 – 103
Kattsoff .O Louis, Pengantar Filsafat, 1992 : Hal 326