HAKIKAT
BAIK
Disusun
Oleh :
Asep
Muhamad Ramdhan
1134010016
BKI
III A
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUNAN
GUNUNG DJATI
BANDUNG
2014
KATA
PENGANTAR
Dengan mengucap puji syukur ke hadirat ALLAH SWT karena atas kehendak-nya,
penyusunan makalah yang merupakan salah satu tugas ujian tengah semester
berjudul HAKIKAT BAIK dapat diselesaikan. Penyusunan makalah ini
bertujuan untuk memenuhi ujian tengah semester.
Dalam penyusunan makalah ini, banyak sekali kesulitan yang dihadapi, tetapi
berkat dorongan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada :
1. Kedua orangtua yang
selalu memberikan dorongan berupa moril maupun materi.
2. Rekan-rekan seperjuangan
yang telah memberikan cerita indah di salah satu episode hidup penulis.
Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulis menyatakan bahwa
makalah yang merupakan ujian tengah semester ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir
kata penulis berharap makalah ini dapat bermanfa’at bagi semua pihak yang
menggunakan. Amien.
ا لله يأ خذبأ يدنا إ
لي ما فيه خير للإسلام وا لمسلميـن
Bandung, November 2014 M
Penulis,
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah
Dalam
setiap agama, budaya, dan yang lainnya memiliki aturan hidup yang harus
dijalankan atau dipatuhi oleh setiap individu yang menganut, memeluk, atau
berada dalam wilayah agama atau budaya tersebut. Aturan yang dibuat tersebut
dianggap sesuatu yang baik
berdasarkan pengalaman, pemikiran ataupun wahyu yang telah diturunkan oleh sang
MAHA PENCIPTA.
Dengan
kata baik tersebut, penulis tergugah untuk mengkaji, membongkar, serta
menjabarkan kata tersebut dalam kajian filsafat. Maka dari itu penulis membuat satu makalah yang berjudul HAKIKAT BAIK.
1.2 Rumusan
Masalah
Supaya lebih menuju pada permasalahan-nya agar tidak terjadi kesimpang
siuran dalam penulisan karya tulis ini, maka penulis mencoba membatasi
masalah-nya dengan perumusan sebagai berikut :
1. Apa definisi baik ?
2. Apa pendapat para ahli tentang hakikat baik ?
3. Bagaimana pandangan hakikat baik filsafat barat ?
4. Bagaimana pandangan hakikat baik menurut islam ?
1.3
Tujuan penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam penyusunan karya
tulis ini adalah :
1. Untuk mengetahui definisi baik
2. Untuk mengetahui pendapat para ahli tentang hakikat baik
3. Untuk mengetahui pandangan hakikat baik dalam filsafat barat
4. Untuk mengetahui pandangan hakikat baik menurut islam
1.4
Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ini penulis menggunakan bibiliografi atau
metode kepustakaan melalui beberapa langkah, diantara-nya :
Langkah
pertama : Mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan bahasan
Langkah
kedua : Mengklasifikasi bahan
Langkah ketiga: Menganalisa sejumlah buku dan hadits yang berkaitan dengan
masalah-masalah yang dibahas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi baik
Menurut kamus besar bahasa
Indonesia baik adalah elok; patut; teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb); sedangkan
kata baik dalam bahasa inggris dapat di definisikan sebagai kualitas yang
bernilai positif terutama yang cocok untuk hal-hal tertentu; dan dalam bahasa
arab adalah khair mengandung arti segala sesuatu yang didalamnya terkandung
kebaikan dan membawa manfaat bagi manusia, baik dalam masalah agama maupun
urusan duniawi. Lawannya adalah syarr yang biasa diterjemahkan dengan keburukan.
Sedangkan menurut istilah baik adalah segala
segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan,
dan disukai manusia. Kesempurnaan, keharuan, kepuasan, kesenangan, kesesuaian,
kebenaran, kesesuaian dengan keinginan, mendatangkan rahmat, memberikan
perasaan senang dan bahagia dan yang sejalan dengan itu adalah merupakan sesuatu
yang dicari dan diusahakan manusia, karena semuanya itu dianggap sebagai yang
baik atau mendatangkan kebaikan bagi dirinya.
2.2 Pendapat Para Ahli
Ada beberapa
pendapat para ahli terutama filusuf adri dunia barat dan dunia islam dalam
mendefinisikan kata baik, antara lain :
1.
Spencer
baik adalah apa yang membuktikan diri bermanfaat dalam
evolusi, mengacu pada cinta personal merupakan kebaikan moral tertinggi;
2.
George
Edward Moore
Berfikir tentang moralitas tampa menjelaskan terlebih dahulu
arti kata “baik” yang paling sentral, hanya akan akan menghasilkan kerancuan
belaka. Baik tidak dapat di definisikan;
3.
Hombay
Baik itu dapat berarti sesuatu yang mendatangkan kepuasan;
4.
Websters
Baik itu adalah yang mendatangkan rahmat, dan memberikan
perasaan senang atau bahagia;
5. Ahmad Charris Zubair
Baik itu jika tingkah laku manusia menuju kesempurnaan, nilai apabila
kebaikan itu bagi seseorang menjadi sesuatu positif yang konkret.
6. Immanuel Kant (1734-
1804)
baik adalah sesuatu yang bernilai positif pada dirinya, tanpa
pamrih, tanpa syarat.
2.3 Hakikat Baik Persfektif Filsafat Barat
Kattsof dalam buku nya menggambarkan pemikiran
Socrates dengan membuat beberapa pernyataan terhadap suatu pemahaman tentang
hakikat baik, yakni :
Pembelian ini baik
Ia orang baik
Ini pisau baik
Kiranya baik menjadi orang sehat
Hendaknya
dicatat bahwa kalimat yang terakhir dapat kita ubah bentuknya menjadi kesehatan merupakan sesuatu yang baik,
tetapi kalimat-kalimat yang lain tidak dapat kita ubah secara demikian.
Misalnya jika dikatakan ini pisau baik,
sudah pasti yang saya maksudkan berbeda dengan apabila dikatakan pisau merupakan sesuatu yang baik. Dalam
hal ini kesehatan itu dalam dirinya sudah mengandung unsur kebaikan; sedangkan
pisau dikatakan baik karena dapat menjadi alat untuk melakukan sesuatu.
Kata baik dipakai dalam arti yang berbeda-beda dalam
masing-masing pernyataan diatas. Masalahnya akan bercampur aduk jika berbagai
penggunaan istilah baik tersebut
diberi makna yang setara. Kecuali jika
dapat menunjukan memang ada inti makna yang sama yang terdapat dalam segenap
penggunaan tadi. Seseorang baru saja membeli kursi dan seseorang temannya
setelah mendengar berapa pembayaran untuk itu kemudian mengatakan suatu pembelian yang baik.yang
dimaksudkan teman tadi ialah bahwa jumlah uang yang anda bayarkan untuk membeli
kursi tersebut sesungguhnya lebih rendah dibandingkan dengan nilai kursi itu
yang sebenarnya. Dengan kata lain pembelian yang baik merupakan pembelian yang
didalamnya nilai uang yang dibayarkan lebih rendah dibandingkan dengan nilai
barang yang dibelinya.
Contoh-contoh diatas adalah suatu perumpamaan mengenai
tanggapan penilaian yang kesemuanya bersifat positif. Sesungguhnya nilai merupakan pengertian yang lebih
luas ruang lingkupnya dibandingkan pengertian yang baik, dan pengertian tersebut menyangkut perangkat suatu hal
yang disetujui dan tidak disetujui.
2.4 Hakikat Baik Persfektif Islam
Ada beberapa pernyataan yang mampu menggambarkan
hakikat baik dalam pandangan islam menurut Mulla Sadra, antara lain :
Tidak mengerjakan amalan sunat itu baik, tetapi
mengerjakan itu baik
Merokok itu baik, merokok itu baik
Dalam
pernyataan tersebut Mulla Sadra menjelaskan tentang hakikat baik itu adalah
sesuatu yang ada tandingan yang lebih baik. Perbuatan baik selamanya tidak akan pernah menimbulkan kerugian
bagi manusia. Justru seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali yang
beriman, beramal sholeh, benar, sabar dan selalu saling menasihati. Artinya
tanpa perbuatan baik, manusia akan merugi. suatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang
diharapkan yang memberikan kepuasan. Yang baik itu juga dapat diartikan sesuatu
yang sesuai dengan keinginan. Dan disebut baik itu juga dapat pula berarti
sesuatu yang mendatangkankan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pada dasarnya baik atau hakikat baik ini adalah
sesuatu yang mendatangkan kepuasan, kesempurnaan, apa yang diharapkan,
mendatangkan rahmat dan memiliki nilai (Value) yang berguna.
Ada titik temu antara filsafat barat dengan filsafat
Islam dalam hakikat nilai ini lebih khususnya pada nilai guna atau kesempurnaan
sesuatu yang memiliki kandungan atau unsur kebaikan didalamnya. Seperti
beberapa contoh yang dikemukakan pada pembahasan.
Namun perbedaannya dalam segi pemikiran filsafat Islam mengacu pada
ayat-ayat, dan hadits-hadits yang menjadi landasan pemikirannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Nurdin dalam Qur’anic Society hal 176
H. Abuddin Nata, Akhlak Tasawwuf, (Jakarta: PT Raja Grafindo 2000). Hal 102 – 103
Kattsoff .O Louis, Pengantar
Filsafat, 1992 : Hal 326