|
Kata Pengantar
Dengan
memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berlimpah
kenikmatan yang tak mungkin sedikitpun manusia dapat membalasnya. Serta
shalawat yang kita haturkan kepada nabi akhir zaman Muhammad SAW yang telah memuntun
kita dari zaman zahiliyah ke zaman Islamiyah.
Ucapan
Alhamdulillah pantas penulis panjatkan, karena atas izin Allah SWT akhirnya
buku biografi seorang tokoh dai inspiratif yang penulis beri judul Tatan Ahmad Santana Dai Modernis nan
Inspiratif dapat selesai walaupun disertai dengan berbagai kekurangannya.
Ucapan
terimakasih juga tak lupa penulis ucapkan untuk :
1.
Kedua orang tua,
yang telah memberikan dorongan baik moril maupun materi;
2.
Asep Iwan
Setiawan, S.Ag., M.Ag selaku dosen mata kuliah Etika Dakwah;
3.
Ustadz Tatan
Ahmad Santana, selaku tokoh inspiratif;
4.
Dan rekan-rekan
seperjuangan, yang telah memberikan cerita indah disalah satu episode hidup
penulis.
Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulis menyatakan bahwa buku yang
merupakan biografi dari seorang tokoh inspiratif ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir
kata penulis berharap buku ini dapat
bermanfa’at bagi semua pihak yang menggunakan. Aamiin.
ا
لله يأ خذبأ يدنا إ لي ما فيه خير للإسلام
وا لمسلميـن
Bandung, Desember 2014 M
Asep Muhamad Ramdhan
Prolog
(Pendahuluan)
Realitas yang
terjadi saat ini, banyak sekali para pelaku dakwah dan pendidik yang dalam
menjalankan tugasnya selalu mematok tarif yang cukup besar. Mereka menjual ilmu
yang mereka miliki, dan sebenarnya secara tidak langsung menutup jalan dalam
penegakan amar ma’ruf nahyi munkar
yang telah Allah perintahkan dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 104.
Tatan Ahmad Santana
adalah seorang dai dan trainer yang berpendapat mendidik itu adalah mengasihi
dan menginspirasi. Menginspirasi banyak orang agar kehidupannya menjadi lebih
baik. Dengan ilmu kehidupan orang dapat berubah menjadi lebih baik, maka dari
itu beliau tidak pernah bercita-cita mewariskan harta pada anak-anaknya, tetapi
mewarisi ilmu untuk mendapatkan harta dunia dan akhirat.
Buku biografi ini
bukanlah cerita fiksi dan bukan suatu karangan penulis dengan tujuan pretensi
untuk mendistorsi alur cerita dalam kehidupan ustadz Tatan Ahmad Santana. Buku
ini menceritakan biografi dan kisah hidup seorang dai inspiratif dari hasil
wawancara dan sumber dari timeline facebook beliau.
Semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Aamiin.
Definisi-Definisi
Dakwah
secara bahasa adalah : (1) An-Nida,
yang artinya memanggil; (2) Ad-Du’a Ila
Sya’I, artinya menyeru dan mendoroong pada sesuatu; (3) Suatu usaha berupa
perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia pada suatu aliran atau agama
tertentu (Syakib, hlm : 19).
Sedangkan
dakwah menurut istilah adalah usaha mengajak manusia pada Islam, menerapkan manhaj atau aturannya, memeluk
aqidahnya, dan melaksanakan syari’atnya (Syakib, hlm : 19).
modernisme /mo·der·nis·me/ /modérnisme/ a
Kris gerakan yg bertujuan
menafsirkan kembali doktrin tradisional, menyesuaikannya dng aliran-aliran
modern dl filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan (http://kbbi.web.id/modernisme).
Dai n Isl orang yg kerjanya
berdakwah; pendakwah (http://kbbi.web.id/dai),
sedangkan menurut istilah dai adalah orang yang memiliki ilmu agama yang
bertugas untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Metode
dakwah dalam arti luas yang mencakup juga strategi, taktik, dan teknik dakwah
(Anshari, hlm : 154). Dalam penyampaian dakwah tanpa dilandasi dengan metode
maka dakwah tersebut kemungkinan kecil akan diterima dan diserap oleh mad’u.
Jalan Panjang nan Berliku
Tatan Ahmad Santana
seorang tokoh pemuka agama yang dilahirkan di kota Tasikmalaya pada tanggal 13
Mei 1981, merupakan anak ke tiga dari enam bersaudara. Beliau lahir dari sebuah
keluarga kecil yang sederhana dan jauh dari kata kaya namun penuh cinta, kasih,
dan sayang.
Walau
beliau berasal dari keluarga yang sederhana, namun beliau pernah merasakan
duduk di bangku TK sampai perguruan tinggi. Beliau pernah bersekolah di SDN
Sukamanah 4, lalu setelah lulus beliau melanjutkan studinya di SMPN 2
Tasikmalaya. Namun ketika beliau lulus dari SMPN 2 Tasikmalaya, ayah beliau
(bapak Syamsudin) tidak berniat untuk menyekolahkannya ke SMA karena
keterbatasan biaya. Akhirnya ayah beliau memberangkatkannya ke Jakarta untuk
bekerja di salah satu toko kacamata. Namun di Jakarta beliau hanya bisa
bertahan selama satu minggu lamanya, karena beliau tidak mau bekerja. Ketika
beliau kembali ke Tasikmalaya dan berniat untuk melanjutkan studi di SMAN 1
Tasikmalaya yang merupakan SMA terbaik di kota Tasikmalaya ternyata telah menutup
pendaftaran bagi calon siswa baru, dan pada akhirnya beliau hanya bisa
mendaftar ke SMAN 3 Tasikmalaya, dan itupun dengan uang yang dicicil karena
keterbatasan ekonomi.
Setelah
lulus dari SMAN 3 Tasikamalaya beliau mendapatkan PMDK ke Universitas diponegoro,
namun karena lagi-lagi akibat keterbatasan biaya, beliau harus kembali meng islah kannya. Namun janji Allah benar
adanya dan tidak menutup jalan bagi hambanya yang berusaha, setelah itu ada
UMPTN ke IKIP (UPI). Beliau mengambil konsentrasi bahasa Jerman.
Nostalgia
Fakta
Walaupun beliau
pada hari ini menjadi seorang tokoh dai, namun sebenarnya beliau belum pernah
merasakan sedikitpun pendidikan pesantren. Ilmu tentang keagamaannya beliau
dapatkan dari guru-guru ngaji nya, yang memiliki latar belakang Nahdatul Ulama. Lalu kemudian selepas
SMA, beliau memiliki kegiatan di Ikatan Pelajar Muslim Tasikmalaya. Dari
sanalah beliau mulai mengenal ragam pemikiran Islam yang lain, khususnya ragam
pemikiran Islam modernis yang dibawa oleh Jam’iyah Persatuan Islam (PERSIS) dan
Perserikatan Muhammadiyah.
Jiwa
kepemimpinannya ditumbuh kembangkan dalam organisasi PRAMUKA, sedangkan ragam
pemikiran keislamannya ditumbuh kembangkan oleh organisasi-organisasi islam
seperti : Ikatan Pelajar Muslim Tasikmalaya, dan Himpunan Remaja Islam Mesjid
Tasikmalaya.
By
Accident
Salah satu hari jum’at pada tahun 2002, adalah hari
perdana bagi beliau untuk berdiri diatas mimbar untuk menyampaikan Khitobah Diniyah yang dihadiri sekitar
tiga ribu jama’ah. Salah satu masjid di daerah Tegal Lega kota Bandung menjadi
saksi bisu atas peristiwa tersebut. Beliau menggantikan mertuannya menjadi
khotib Jum’at yang kebetulan tidak bisa menunaikannya karena jatuh sakit.
Pada waktu itu ada jama’ah yang mempunyai
ketertarikan pada aspek retorika atau kemampuan berbicara beliau yang sudah
dilatih sejak beliau masih kecil. Itulah kali pertama beliau naik ke podium,
tetapi beliau berorasi di jalan, menyampaikan pelatihan ke pelajar, beliau
telah beliau awali sejak duduk di bangku kelas 2 SMA.
Dari ketidak sengajaan berdakwahnya itu, sekarang
beliau menjadi seorang yang gemar dan hobby
untuk berdakwah dan mendidik. Dan menurut beliau, berdakwah dan mendidik itu
bukanlah sebuah profesi.
Manis-manis
Alpukat
Hidup
itu tak selamanya sejalan dengan apa yang kita inginkan, terkadang ada halangan
dan rintangan yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya terhadap dakwah yang
haq yaitu dakwah yang didasari oleh petunjuk Yang maha pembuat syari’at dengan
bertujuan mentauhidkan-Nya dan mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Maka
bentuk dakwah ini senantiasa tidak akan terlepas daripada ujian, rintangan, dan
ancaman, baik secara mental maupun fisik. Laksana kata, dakwah yang haq tanpa
dibarengi ujian dan rintangan, seperti sebuah hal yang patut
dipertanyakan—dakwah seperti apakah itu? Oleh karena beratnya beban yang harus
diterima, maka sedikitlah yang mampu melaksanakan dakwah haq ini karena takut
akan konsekuensinya. Sebaliknya, mereka yang mampu dan tetap istiqomah menopang
ujian dan rintangan demi tersebarnya syari’at Allah di muka bumi ini, mereka
akan tegar dan berjiwa besar (http://www.arrahmah.com/read/2012/11/05/24497-ujian-rintangan-dan-ancaman-dakwah.html.
24 Desember 2014, 11 : 38). Khususnya perjalanan dakwah Ustadz Tatan Ahmad
Santana. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau beliau acap kali menemukan
hambatan-hambatan, ancaman, tantangan, dan gangguan.
Beliau adalah
salah seorang yang meyakini Yamkuruna wa
yamkurllah khoirol matskirin, dalam berdakwah itu sudah pasti ada orang
yang tidak suka, ada orang yang kemudian merasa tersinggung, ada orang yang
mencoba-coba mencari kekurangan kita. Bahkan diawal ayat tersebut orang yang
berdakwah itu pasti mempunyai tiga ancaman, pertama mungkin dia diasingkan,
dibunuh, atau dipenjara. Dan itu telah terjadi pada fase-fase yang lalu.
Tetapi beliau
paling pernah mengalami dijauhi oleh tetangga. Suatu saat beliau pernah juga
selepas shalat iedul Adha ada seseorang yang sedang menguliti hewan sembelihan
sambil memotong-motong daging qurban sambil meminum arak. Lalu kemudian beliau
tegur dengan istrinya, kemudian orang tersebut membawa pisau dan mengancam
beliau. Tetapi dengan kesabaran beliau terus menasihatinya, dan Alhamdulillah akhirnya saat ini orang
tersebut menjadi pengurus DKM.
Disamping itu
juga beliau pernah punya kendala Financial,
suatu saat beliau hanya punya uang tiga ribu lima ratus ribu rupiah dan beliau
harus berdakwah ke daerah Setia Budi dari daerah Gatot Subroto, dan terpaksa
beliaupun harus berjalan kaki dalam jarak yang cukup lumayan jauh.
Beliau memiliki
satu pengalaman yang masih lekat dalam ingatannya, ketika beliau harus
berdakwah dari Bandung ke Ajrabinta yang terletak di daerah Kabupaten Cianjur
Selatan yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih lima jam. Namun beliau
menempuh perjalanan tersebut dengan delapan jam, dengan kondisi jalan yang
rusak parah. Sesampainya disana pengajian tersebut hanya dihadiri oleh sekitar
tiga kepala keluarga saja. Setelah selesai beliau menyempatkan diri untuk
bercengkrama bersama para jama’ah disana dan menanyakan mengapa jama’ah yang
menghadiri pengajian tersebut hanya sedikit, dan para jama’ah disana menjawab
bahwasannya jarang sekali ustadz atau ulama yang mau untuk berdakwah di daerah
terpencil tersebut.
Menurutnya, berdakwah
itu tidak hanya harus di perkotaan saja dan lalu kemudian konteksnya materi.
Tetapi kemudian kitapun harus masuk ke kampong-kampung, harus masuk ke
wilayah-wilayah terpencil, yang miskin dan sebetulnya agak rawan dengan
pemurtadan, lalu kita harus menguatkan aqidah mereka agar kemudian mereka akan
semakin mencintai agama Allah.
Dilain sisi juga
beliau memiliki kesan ketika beliau mewakili Indonesia sebagai ketua delegasi
di pertemuan pemuda MABIMS (pertemuan menteri agama Malaysia, Brunei,
Indonesia, Singapore) di Singapore, beliau sebagai ketua delegasi Indonesia dan
diminta untuk menyampaikan strategi dakwah untuk anak-anak muda. Dan terakhir
di bulan Mei 2014 lalu beliau dating ke Istanbul Turki sebagai pintu gerbang
masuknya islam di benua Eropa dan beliau merasa terkesan sekaligus terhormat
karena mendapatkan kesempatan untuk berbicara di salah satu Universitas di
turki untuk berbicara tentang “Bagaimana pendidikan Islam dapat menuntaskan
kemiskinan”.
Romantika
Keuarga
Ketika masih duduk
di bangku SMA, beliau adalah salah seorang aktivis PRAMUKA dan sekaligus
sebagai ketua Sanggar Bhakti Kencana jadi beliau termasuk orang yang
mengkampanyekan penundaan usia perkawinan dan menyuarakan kepada orang-orang
bahwa nikah itu haruslah pada usia 25tahun untuk laki-laki, dan 20 tahun untuk
perempuan. Tapi justru beliau menikah pada usia yang masih cukup muda, yaitu
pada usia beliau masih 21 tahun dan istrinya (Bu Lela Sa’adah) berusia 23
tahun. Jadi sebelum beliau lulus dari IKIP (UPI), beliau sudah menikah dengan
Ibu Lela Sa’adah.
Ketika beliau
masih menyandang status sebagai mahasiswa beliau belum begitu terjaga, karena
pada dasarnya beliau tidak memiliki latar belakang seorang Kyai, Ulama, Santri.
Dan itu bukanlah merupakan suatu kesengajaan, melainkan ketidak tahuan beliau
terhadap agama.
Pada suatu saat
beliau bertemu dengan Ibu Lela Sa’adah yang kebetulan anak seorang Kyai dan
dibesarkan dilingkungan jam’iyah PERSIS yang agak ketat secara fiqhiyah dan melihat Ibu Lela ini
berbeda dengan perempuan-perempuan lainnya yang tidak menghiraukan
batasan-batasan ikhtilat. Lalu beliau
merasa tertarik dengan keanehan tersebut, karena menurutnya perempuan yang
seperti ini memiliki misteri dan tantangan. Pada akhirnya beliau memutuskan untuk
terus berusaha mendekatinya serta mencoba ngobrol dan entah apa yang mendorong
beliau untuk bertanya “mau nggak jadi istri saya ?”.
Kemudian mereka
menikah pada tanggal 4 Januari 2002. Namun ketika mereka menikah ustadz Tatan
tidak mengeluarkan modal apapun, karena mertua yang menyediakan segalanya.
Menurut beliau mertuanya (H. Emon Sastra Negara) adalah orang yang faham
terhadap agama, dan salah satu bentuknya adalah beliau memudahkan dan tidak
meminta apapun darinya karena mertuanya mengetahui kondisi beliau, walaupun pernikahannya
itu dihadiri sekitar tiga ribu orang.
Dari
pernikahannya tersebut, mereka telah dikaruniai tiga orang anak, yakni :
1.
Adhfar Aulia
Syuhada (10th), seorang anak yang berprestasi seperti pernah
menjuarai olimpiade SAINS, dan agama. Dan beberapa waktu lalu ikut salah satu
acara edukasi televisi dan lolos hingga empat besar.
2.
Zahra Archie
Khalida (8th), bersekolah di Labschool UPI dan memiliki Hobby membaca, juga menulis.
3.
Azridia Al-Haq
(5th), bersekolah di TK Pembina dan sebentar lagi masuk SD. Azridia
ini memiliki karakter yang sedikit agak ekspresif, relatif pemberani disbanding
kakak-kakaknya
Ketiga buah
hatinya ini memiliki tiga karakter yang berbeda, walaupun dilahirkan dari Rahim
yang sama. Dan dapat dipetik hikmah jika tiga buah hatinya ini dilahirkan dari
Rahim yang sama namun memiliki karakter yang berbeda, apalagi mad’u yang kita
hadapi terlahir dari Rahim yang berbeda dan cara touch nya juga berbeda, dengan cara pendekatan yang berbeda pula.
Setelah mereka
menikah, mereka tinggal di sebuah kontrakan yang berukuran 3x4m dan hidup
sangat sederhana dengan penghasilan beliau pada waktu itu sekitar Rp
250.000/Bln dari hasil mengajar bahasa Jerman kepada aak-anak ITB. Merekapun
pernah makan dengan garam, goreng tempe, dan itu merupakan bagian dari
kenikmatan yang selalu mereka syukuri pada waktu itu.
Namun Alhamdulillah keluarga mereka sekarang
hidup dengan cukup mapan, anak-anak beliau bersekolah di sekolah-sekolah
terbaik, dan istri beliau mau melanjutkan studi pascasarjana nya selepas
menjadi ketua umum Pemudi PERSIS. Hidup aman, nyaman, tentram, dan beliau
sebagai kepala keluarga terus berusaha menjadi teladan bagi istri dan
anak-anak. Seperti yang sering beliau sampaikan di berbagai kesempatan termasuk
dalam timeline facebook beliau bahwa
teladan itu jauh lebih efektif untuk mendidik orang ketimbang jutaan tulisan
dan jutaan perkataan.
Touch
for Teens
Remaja adalah
manusia yang berumur antara 12-15 tahun. Seorang remaja adalah seorang yang
puber. Yang berumur 16-20 tahun disebut dengan Adolsen (Drost, 1998:224).
Sebagaimana yang
telah diketahui, setelah anak dilahirkan, dia harus mengikuti proses pembentukan
kepribadian ditengah-tengah keluarga. Mula-mula sebagai anak, ia bertumbuh dan
berkembang ditengah-tengah keluarganya mengikuti pola asuh yang diterapkan oleh
keluarganya. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika bertumbuh dan berkembang
sebagai remaja, ia mulai keluar dari lingkungan keluarga yang sempit untuk
mengenal berbagai factor di luar keluarganya (Surbakti, 2009 : 30).
Menurut ustadz
Tatan Ahmad Santana, cara berdakwah yang paling efektif kepada remaja adalah
dengan cara menjadi teladan, karena remaja adalah masa yang paling senang untuk
melihat dan meniru. Jika ustadznya tidak dapat menjadi teladan, kyainya menjadi
teladan sangat kecil kemungkinan remaja tersebut mengikuti.
Seperti kegiatan
yang rutin beliau lakukan di komplek rumahnya, mengajak para remaja untuk
footsall setiap hari ahad pukul tujuh sampai pukul Sembilan atau sebelas.
Beliau membuat mereka dekat terlebih dahulu, membuat mereka nyaman terlebih
dahulu. Jika hati mereka sudah nyaman, sudah dekat dengan beliau, maka kemudian
langkah dakwah bisa dilakukan. seperti contoh ketika kita bermain footsall dan
kehausan maka kita mempunyai dua pilihan, kita minum sambil berjalan atau
sambil duduk. Dan ketika kita minum sambil duduk maka lambat laun anak-anak
muda itu akan bertanya kenapa harus sambil duduk ? baru kita mengatakan latasrob qoiman, dan itu adalah bagian
dakwah yang efektif. Jadi tidak perlu berbusa-busa ngobrol kebaikan lalu kita
tidak dekat dengan anak muda.
Dekati dulu anak-anak muda, ikut
arus mereka, fahami karakter mereka, dan kita berdiri diatasnya, lalu kita
arahkan arus mereka kea rah kebaikan.
Efektivitas
Dakwah atau Formalitas Belaka ?
Dewasa ini para
pelaku dakwah (dai) banyak yang melakukan dakwah ini untuk kebaikan, namun di sisi lain juga ada
para pelaku dakwah yang berdakwah dengan berbagai tujuan, seperti untuk mencari
popularitas, dsb. Sebagai contoh, ustadz Tatan jika mengisi pengajian di Bank
beliau dibayar sebesar tujuh ratus lima puluh ribu untuk empat puluh lima menit
saja. Terkadang beliau malu ketika harus menerima uang tersebut, karena di sisi
lain seperti guru honorer yang tanggung jawabnya lebih besar dari beliau karena
tugas mereka adalah menumbuh kembangkan anak dalam usia yang sedang berkembang
dan hanya di gajih dua ratus lima puluh ribu rupiah per bulan oleh negara. Dari
contoh tersebut, seharusnya kita harus sudah memiliki dan menumbuhkan rasa
malu.
Ustadz Tatan mengkritik
pola dakwah sekarang, yang pertama, yakni orientasi dakwah yang orientasinya
itu lebih kepada materi, kekuasaan, dan popularitas. Kemudian yang kedua, jika
para ustadz dan kyai sudah terjebak dalam kemewahan dan uang, maka lambat laun
merekapun akan kehilangan kewibawaan kyainya. Dulu itu ketika orang mendengar
suara sandalnya kyai saja mereka sudah pada takut dan tidak berani untuk
berjalan di depan kyai karena ada penghargaan kewibawaan atas ilmu dan
kesederhanaan. Jika kyai-kyai sekarang tidak dapat menjadi teladan maka
dikhawatirkan umat zaman sekarang ini tidak mempunyai teladan hidup. Dan yang
terakhir, sekarang itu sudah banyak pengajian yang isinya itu arisan, atau
bahkan menghidupkan semangat kreditan.
Suatu ketika
beliau pernah datang ke sebuah pengajian ibu-ibu muda kaya, kemudian ada
seorang ibu-ibu yang mengintruksikan kepada beliau untuk berceramah hanya dalam
waktu tiga puluh menit saja. Setelah pengajian beliau diajak lunch dan beliau melihat ibu-ibu muda
tersebut sedang arisan berlian, dan ternyata para ibu-ibu tersebut suka
mengadakan arisan selepas pengajian itu sampai jam satu dan terkadang sampai
setengah dua, padahal pengajian itu dimulai dari pukul sepuluh. Disana
menggambarkan bahwa mereka lebih tertarik dengan hal yang sifatnya duniawi dari
pada hal-hal yang bersifat ukhrawi.
Satu pesan dari
ustadz Tatan adalah, “ngaji sebagai lifestyle
itu bagus, tetapi saya ingin justru lebih dari itu. Ngaji itu harus
mempengaruhi gaya hidup, dan jangan menjadikan ngaji itu untuk dilihat orang
kita rajin mengaji, ajang sosialita, selesai. Sedangkan esensi dari
pengajiannya itu tidak mempengaruhi gaya hidup”.
Antara Profesi dan Hobby
Menurut kamus
besar bahasa Indonesia modern, “profesi” berarti pekerjaan yang dilandasi
dengan keahlian, yaitu yang berasal dari kata profeteor yang berarti, mengumumkan, menyatakan kepercayaan,
menegaskan, membuka, mengakui dan membenarkan. Jadi, profesi dapat dikatakan
sebagai suatu kegiatan atau usaha (trade)
yang oleh pelaksana atau pelakunya dinyatakan secara terbuka dan di depan umum
(Nafsiah, 2000:67).
Sedangkan hobi adalah kegiatan rekreasi yang
dilakukan pada waktu luang
untuk menenangkan pikiran seseorang. kata Hobi merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris "Hobby" (http://id.wikipedia.org/wiki/Hobi,
25 Desember 2014. 09 : 12).
Menurut ustadz
Tatan Ahmad Santana, dakwah dan mendidik itu adalah mengasihi dan menginspirasi.
Rasa cinta beliau terhadap orang tidak dapat diekspresikan dengan bunga, meberi
coklat, memberikan kendaraan, dan lain sebagainya. Dan rasa kasih sayang beliau
itu beliau eksperesikan lewat mendidik, karena beliau sangat yakin dengan ilmu
kehidupan seseorang akan jadi lebih baik. Menurutnya bukan hanya mendidik dalam
ranah kognitif atau pengetahuan saja, namun lebih dari itu dalam kehidupan
sehari-hari.
Kita banyak
menemukan orang berubah nasibnya, berubah kondisi keluarganya dari hasil
pendidikan dan ilmu yang mereka punya, seperti Andrea Hirata di laskar pelangi, dan juga termasuk beliau
sendiri. Menurut beliau, karena beliau mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan
pendidikan maka kehidupan beliau sekarang jauh lebih baik dari kehidupan beliau
puluhan tahun yang lalu.
Yang kedua
dakwah atau mendidik itu menginspirasi, berdakwah atau mendidik itu harus
menginspirasi orang agar jauh lebih baik dan itu hanya bisa dilakukan oleh
orang-orang yang dapat menjadi teladan bagi orang lain.
Menurut beliau,
dai dan pendidik itu bukanlah suatu profesi, melainkan sebagai tuntutan dari
Allah SWT yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. Memang benar jika dilihat
dari kacamata definisi profesi beliau adalah seorang pendidik, namun beliau
enggan mengakui itu sebagai profesi melinkan sebagai sebuah hobi, karena beliau
sangatlah gemar berbicara walaupun tidak dibayar.
Menurut beliau,
beliau adalah seorang pedagang yang bodoh jika orang-orang marketing yang
berbicara, Karena beliau adalah seorang trainer dan juga dai yang mempunyai
ilmu namun enggan untuk mematok tarif, atau bayaran jika beliau diminta untuk
mencampaikan ilmu yang beliau miliki. Beliau akan datang dengan berapapun
bayarannya atau tidak dibayar sama sekali.
Dalam
kehidupannya, ustadz Tatan Ahmad Santana adalah seorang pribadi yang sederhana.
Salah satu produk yang beliau miliki dan dapat
dijual hanyalah ilmu, dan kerena beliau hanya meiliki satu produk saja
untuk dijual maka beliaupun enggan untuk menjualnya. Inilah salah satu contoh
teladan yang beliau berikan bagi para pendidik yang lain.
Sebagai contoh,
beberapa waktu lalu beliau diundang dalam lingkar bidik misi UPI dan bertemu
sekitar tiga ribu anak bangsa yang diberi kehormatan oleh bangsa ini untuk
kemudian hidup lebih baik, mendapatkan beasiswa, menjadi manusia teladan,
manusia berpendidikan, mereka diberikan uang oleh negara untuk masuk kuliah.
Kemudian beliau diajak ngobrol oleh presiden bidik misi UPI dan ditanya
kesediaan beliau mengisi materi juga jumlah nominal yang Ustadz Tatan inginkan
dari penyampaian materinya tersebut, karena biasanya para pemateri selalu
mematok harga dan sound system dengan kekuatan tertentu. Lalu ustadz Tatan
sontak menjawab “kalian tidak punya uangpun saya datang”.
Beliau bekerja
sebagai seorang trainer yang tidak beliau jalankan secara professional, karena
beliau tidak pernah mematok tariff ataupun bayaran kepada siapa saja yang
mengundangnya. Beliau menghidupi keluarganya dari pekerjaan sebagai trainer dan
orang-orang yang ikhlas membantu (membayar) kehidupan beliau.
Walaupun
demikian kuasa Allah tak dapat dihalangi oleh siapapun dan apapun, meski tak
pernah menentukan tariff dari pekerjaannya kehidupan beliau baik-baik saja,
bahkan beliau masih sempat pergi keluar negeri minimal dua kali dalam satu tahun
karena diundang ataupun hanya sekedar berlibur saja.
Dalam usianya
yang masih cukup muda (33th) beliau sudah merasa puas dengan kehidupan dunianya,
dan kata beliau jika Allah memberikannya usia sama seperti nabi Muhammad maka
setengah dari kehidupan beliau tinggal mencari menginfestasikan amalan untuk
kehidupan negeri akhirat yang kekal.
Epilog
(Penutup)
Dakwah adalah
usaha dalam mengajak manusia kepada Islam, menerapkan manhaj, atau aturannya, memeluk aqidahnya, dan melaksanakan
syariatnya. Sedangkan da’I adalah orang yang berdakwah atau orang pertama dala
berdakwah.
Tatan ahmad
Santana merupakan dai teladan yang harus dijadikan sebagai contoh bagi dai-dai
lainnya karena dewasa ini banyak sekali
para pelaku dakwah yang menjadikan dakwah sebagai ladang atau ajang
mencari popularitas, kekuasaan, dan materi saja. Orientasi tersebut sudah jelas
bertentangan dengan orientasi dakwah islam secara umum.
Ketika para
pelaku dakwah sudah beorientasi pada popularitas, kekuasaan, atau materi maka
dapat dipastikan tujuan utama dari dakwah untuk memberikan penerangan kepada
umata akan lambat laun luntur.
Pelajaran yang
dapat kita dapat ambil dari kehidupan ustadz Tatan Ahmad Santana juga beliau
adalah pribadi yang sederhana, dan dalam mendidik tidakk pernah mematok tarif,
karena beliau yakin bahwa rezeki seseorang takan pernah hilang, asal kita terus
berusaha, dan mensyukuri nikmat dari Allah maka Allah akan menambahkan
nikmatnya.
Beliau sangat
berkontribusi khususnya dalam dunia pendidikan, beliau mencintai orang yang
ditunjukan dalam mengasihi dan menginspirasi orang lain. Beliau tidak pernah
menjual sesuatu dan satu-satunya produk yang beliau punya hanyalah ilmu. Karena
ilmu adalah satu-satunya produk yang beliau miliki, maka beliaupun enggan untuk
mendagangkannya.
Kehidupannya
sekarang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupannya puluhan tahun
yang lalu, selain itu atas scenario Allah disamping itu juga karena pendidikan
yang dapat merubah hidupnya, dan beliau tidak pernah untuk mencita-citakan
mewariskan harta pada anak-anaknya tetapi ilmulah yang ingin beliau wariskan.
Kenali madu dan
karakternya, karena setiap madu tidak dapat di sentuh dengan cara yang sama.
Beliau menggambarkan dengan putra-putrinya yang dilahirkan dari Rahim yang sama
namun memiliki karakter yang berbeda dan tidak dapat memakai pola asuh yang
sama, palagi madu yang begitu banyak juga lahir dari Rahim yang berbeda maka
sudah barang tentu kita harus mendidiknya dengan cara yang berbeda pula.
Galeri
Apresiasi
Puji syukur saya
panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan banyak kenikmatan, tak
lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada beberapa pihak yang telah membantu
dalam pembuatan buku biografi ini, yakni :
1.
Kedua orang tua,
yang telah memberikan dorongan berupa moril maupun materi;
2.
Bp. Asep Iwan
Setiawan, S.Ag., M.Ag. Selaku dosen mata kuliah Etika Dakwah yang telah
memberikan ilmu dan bekal untuk penulisan buku ini;
3.
Ustadz Tatan
Ahmad Santan, selaku tokoh inspiratif yang telah bersedia di angkat biografinya
dalam buku ini;
4.
Rekan-rekan
seperjuangan yang telah memberikan cerita indah disalah satu episode hidup
penulis.
dan
berbagai pihak yang tak dapat saya tuliskan satu persatu, karena lagi-lagi
harus dibatasi dengan lembar kertas dan ingatan.
Tidak
tahu dengan cara apa saya harus membalas jasa mereka semua, hanya satu yang
dapat penulis berikan, yaitu do’a yang tulus dari dalam hati dan dipanjatkan
kepada Allah SWT. Semoga mereka dapat terus diberikan kebaikan oleh Allah SWT.
Aamiin.
Jepret Kamera

Daftar
Pustaka
J.I.G.M. Drost, S.J., 1998, Sekolah Mengajar atau Mendidik. Yogyakarta : Kanisius
Nafsiah
Siti, 2000, Prof.Hembing Pemenang The
Star of Asia Award. Jakarta : Prestasi Insan Indonesia
Surbakti.
E.B, Drs., M.A. 2009, Kenalilah Anak
Ramaja Anda. Jakarta : PT.Elex Media Komputindo
Syabib Ahmad, Why
Not Remaja Jadi Da’I ?. Jakarta : Mizan
http://www.arrahmah.com/read/2012/11/05/24497-ujian-rintangan-dan-ancaman-dakwah.html.
24 Desember 2014, 11 : 38
http://kbbi.web.id/modernisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar