Selasa, 12 April 2016

Tatan Ahmad Santana, Da'i Modernis nan Inspiratif















       Buku ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya  tercinta
 
 





















Kata Pengantar
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berlimpah kenikmatan yang tak mungkin sedikitpun manusia dapat membalasnya. Serta shalawat yang kita haturkan kepada nabi akhir zaman Muhammad SAW yang telah memuntun kita dari zaman zahiliyah ke zaman Islamiyah.
Ucapan Alhamdulillah pantas penulis panjatkan, karena atas izin Allah SWT akhirnya buku biografi seorang tokoh dai inspiratif yang penulis beri judul Tatan Ahmad Santana Dai Modernis nan Inspiratif dapat selesai walaupun disertai dengan berbagai kekurangannya.
Ucapan terimakasih juga tak lupa penulis ucapkan untuk :
1.      Kedua orang tua, yang telah memberikan dorongan baik moril maupun materi;
2.      Asep Iwan Setiawan, S.Ag., M.Ag selaku dosen mata kuliah Etika Dakwah;
3.      Ustadz Tatan Ahmad Santana, selaku tokoh inspiratif;
4.      Dan rekan-rekan seperjuangan, yang telah memberikan cerita indah disalah satu episode hidup penulis.
Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulis menyatakan bahwa buku yang merupakan biografi dari seorang tokoh inspiratif ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir kata penulis berharap buku ini dapat bermanfa’at bagi semua pihak yang menggunakan. Aamiin.
ا لله يأ خذبأ يدنا إ لي ما فيه خير  للإسلام وا لمسلميـن




Bandung,   Desember 2014 M
                                                                                       
                                                                                                 Asep Muhamad Ramdhan  
Prolog (Pendahuluan)
Realitas yang terjadi saat ini, banyak sekali para pelaku dakwah dan pendidik yang dalam menjalankan tugasnya selalu mematok tarif yang cukup besar. Mereka menjual ilmu yang mereka miliki, dan sebenarnya secara tidak langsung menutup jalan dalam penegakan amar ma’ruf nahyi munkar yang telah Allah perintahkan dalam Al-Quran surat Ali-Imran ayat 104.
Tatan Ahmad Santana adalah seorang dai dan trainer yang berpendapat mendidik itu adalah mengasihi dan menginspirasi. Menginspirasi banyak orang agar kehidupannya menjadi lebih baik. Dengan ilmu kehidupan orang dapat berubah menjadi lebih baik, maka dari itu beliau tidak pernah bercita-cita mewariskan harta pada anak-anaknya, tetapi mewarisi ilmu untuk mendapatkan harta dunia dan akhirat.
Buku biografi ini bukanlah cerita fiksi dan bukan suatu karangan penulis dengan tujuan pretensi untuk mendistorsi alur cerita dalam kehidupan ustadz Tatan Ahmad Santana. Buku ini menceritakan biografi dan kisah hidup seorang dai inspiratif dari hasil wawancara dan sumber dari timeline  facebook beliau.
Semoga buku ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Aamiin.











Definisi-Definisi

Dakwah secara bahasa adalah : (1) An-Nida, yang artinya memanggil; (2) Ad-Du’a Ila Sya’I, artinya menyeru dan mendoroong pada sesuatu; (3) Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia pada suatu aliran atau agama tertentu (Syakib, hlm : 19).
Sedangkan dakwah menurut istilah adalah usaha mengajak manusia pada Islam, menerapkan manhaj atau aturannya, memeluk aqidahnya, dan melaksanakan syari’atnya (Syakib, hlm : 19).
modernisme /mo·der·nis·me/ /modérnisme/ a Kris gerakan yg bertujuan menafsirkan kembali doktrin tradisional, menyesuaikannya dng aliran-aliran modern dl filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan (http://kbbi.web.id/modernisme).
Dai n Isl orang yg kerjanya berdakwah; pendakwah (http://kbbi.web.id/dai), sedangkan menurut istilah dai adalah orang yang memiliki ilmu agama yang bertugas untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Metode dakwah dalam arti luas yang mencakup juga strategi, taktik, dan teknik dakwah (Anshari, hlm : 154). Dalam penyampaian dakwah tanpa dilandasi dengan metode maka dakwah tersebut kemungkinan kecil akan diterima dan diserap oleh mad’u.






Jalan Panjang nan Berliku
Tatan Ahmad Santana seorang tokoh pemuka agama yang dilahirkan di kota Tasikmalaya pada tanggal 13 Mei 1981, merupakan anak ke tiga dari enam bersaudara. Beliau lahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana dan jauh dari kata kaya namun penuh cinta, kasih, dan sayang.
Walau beliau berasal dari keluarga yang sederhana, namun beliau pernah merasakan duduk di bangku TK sampai perguruan tinggi. Beliau pernah bersekolah di SDN Sukamanah 4, lalu setelah lulus beliau melanjutkan studinya di SMPN 2 Tasikmalaya. Namun ketika beliau lulus dari SMPN 2 Tasikmalaya, ayah beliau (bapak Syamsudin) tidak berniat untuk menyekolahkannya ke SMA karena keterbatasan biaya. Akhirnya ayah beliau memberangkatkannya ke Jakarta untuk bekerja di salah satu toko kacamata. Namun di Jakarta beliau hanya bisa bertahan selama satu minggu lamanya, karena beliau tidak mau bekerja. Ketika beliau kembali ke Tasikmalaya dan berniat untuk melanjutkan studi di SMAN 1 Tasikmalaya yang merupakan SMA terbaik di kota Tasikmalaya ternyata telah menutup pendaftaran bagi calon siswa baru, dan pada akhirnya beliau hanya bisa mendaftar ke SMAN 3 Tasikmalaya, dan itupun dengan uang yang dicicil karena keterbatasan ekonomi.
Setelah lulus dari SMAN 3 Tasikamalaya beliau mendapatkan PMDK ke Universitas diponegoro, namun karena lagi-lagi akibat keterbatasan biaya, beliau harus kembali meng islah kannya. Namun janji Allah benar adanya dan tidak menutup jalan bagi hambanya yang berusaha, setelah itu ada UMPTN ke IKIP (UPI). Beliau mengambil konsentrasi bahasa Jerman.








Nostalgia
Fakta
Walaupun beliau pada hari ini menjadi seorang tokoh dai, namun sebenarnya beliau belum pernah merasakan sedikitpun pendidikan pesantren. Ilmu tentang keagamaannya beliau dapatkan dari guru-guru ngaji nya, yang memiliki latar belakang Nahdatul Ulama. Lalu kemudian selepas SMA, beliau memiliki kegiatan di Ikatan Pelajar Muslim Tasikmalaya. Dari sanalah beliau mulai mengenal ragam pemikiran Islam yang lain, khususnya ragam pemikiran Islam modernis yang dibawa oleh Jam’iyah Persatuan Islam (PERSIS) dan Perserikatan Muhammadiyah.
Jiwa kepemimpinannya ditumbuh kembangkan dalam organisasi PRAMUKA, sedangkan ragam pemikiran keislamannya ditumbuh kembangkan oleh organisasi-organisasi islam seperti : Ikatan Pelajar Muslim Tasikmalaya, dan Himpunan Remaja Islam Mesjid Tasikmalaya.

By Accident
Salah satu hari jum’at pada tahun 2002, adalah hari perdana bagi beliau untuk berdiri diatas mimbar untuk menyampaikan Khitobah Diniyah yang dihadiri sekitar tiga ribu jama’ah. Salah satu masjid di daerah Tegal Lega kota Bandung menjadi saksi bisu atas peristiwa tersebut. Beliau menggantikan mertuannya menjadi khotib Jum’at yang kebetulan tidak bisa menunaikannya karena jatuh sakit.
Pada waktu itu ada jama’ah yang mempunyai ketertarikan pada aspek retorika atau kemampuan berbicara beliau yang sudah dilatih sejak beliau masih kecil. Itulah kali pertama beliau naik ke podium, tetapi beliau berorasi di jalan, menyampaikan pelatihan ke pelajar, beliau telah beliau awali sejak duduk di bangku kelas 2 SMA.
Dari ketidak sengajaan berdakwahnya itu, sekarang beliau menjadi seorang yang gemar dan hobby untuk berdakwah dan mendidik. Dan menurut beliau, berdakwah dan mendidik itu bukanlah sebuah profesi.



Manis-manis Alpukat
Hidup itu tak selamanya sejalan dengan apa yang kita inginkan, terkadang ada halangan dan rintangan yang harus kita hadapi. Demikian juga halnya terhadap dakwah yang haq yaitu dakwah yang didasari oleh petunjuk Yang maha pembuat syari’at dengan bertujuan mentauhidkan-Nya dan mengenyahkan segala bentuk kesyirikan. Maka bentuk dakwah ini senantiasa tidak akan terlepas daripada ujian, rintangan, dan ancaman, baik secara mental maupun fisik. Laksana kata, dakwah yang haq tanpa dibarengi ujian dan rintangan, seperti sebuah hal yang patut dipertanyakan—dakwah seperti apakah itu? Oleh karena beratnya beban yang harus diterima, maka sedikitlah yang mampu melaksanakan dakwah haq ini karena takut akan konsekuensinya. Sebaliknya, mereka yang mampu dan tetap istiqomah menopang ujian dan rintangan demi tersebarnya syari’at Allah di muka bumi ini, mereka akan tegar dan berjiwa besar (http://www.arrahmah.com/read/2012/11/05/24497-ujian-rintangan-dan-ancaman-dakwah.html. 24 Desember 2014, 11 : 38). Khususnya perjalanan dakwah Ustadz Tatan Ahmad Santana. Dalam perjalanan dakwahnya, beliau beliau acap kali menemukan hambatan-hambatan, ancaman, tantangan, dan gangguan.
Beliau adalah salah seorang yang meyakini Yamkuruna wa yamkurllah khoirol matskirin, dalam berdakwah itu sudah pasti ada orang yang tidak suka, ada orang yang kemudian merasa tersinggung, ada orang yang mencoba-coba mencari kekurangan kita. Bahkan diawal ayat tersebut orang yang berdakwah itu pasti mempunyai tiga ancaman, pertama mungkin dia diasingkan, dibunuh, atau dipenjara. Dan itu telah terjadi pada fase-fase yang lalu.
Tetapi beliau paling pernah mengalami dijauhi oleh tetangga. Suatu saat beliau pernah juga selepas shalat iedul Adha ada seseorang yang sedang menguliti hewan sembelihan sambil memotong-motong daging qurban sambil meminum arak. Lalu kemudian beliau tegur dengan istrinya, kemudian orang tersebut membawa pisau dan mengancam beliau. Tetapi dengan kesabaran beliau terus menasihatinya, dan Alhamdulillah akhirnya saat ini orang tersebut menjadi pengurus DKM.
Disamping itu juga beliau pernah punya kendala Financial, suatu saat beliau hanya punya uang tiga ribu lima ratus ribu rupiah dan beliau harus berdakwah ke daerah Setia Budi dari daerah Gatot Subroto, dan terpaksa beliaupun harus berjalan kaki dalam jarak yang cukup lumayan jauh.
Beliau memiliki satu pengalaman yang masih lekat dalam ingatannya, ketika beliau harus berdakwah dari Bandung ke Ajrabinta yang terletak di daerah Kabupaten Cianjur Selatan yang dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih lima jam. Namun beliau menempuh perjalanan tersebut dengan delapan jam, dengan kondisi jalan yang rusak parah. Sesampainya disana pengajian tersebut hanya dihadiri oleh sekitar tiga kepala keluarga saja. Setelah selesai beliau menyempatkan diri untuk bercengkrama bersama para jama’ah disana dan menanyakan mengapa jama’ah yang menghadiri pengajian tersebut hanya sedikit, dan para jama’ah disana menjawab bahwasannya jarang sekali ustadz atau ulama yang mau untuk berdakwah di daerah terpencil tersebut.
Menurutnya, berdakwah itu tidak hanya harus di perkotaan saja dan lalu kemudian konteksnya materi. Tetapi kemudian kitapun harus masuk ke kampong-kampung, harus masuk ke wilayah-wilayah terpencil, yang miskin dan sebetulnya agak rawan dengan pemurtadan, lalu kita harus menguatkan aqidah mereka agar kemudian mereka akan semakin mencintai agama Allah.
Dilain sisi juga beliau memiliki kesan ketika beliau mewakili Indonesia sebagai ketua delegasi di pertemuan pemuda MABIMS (pertemuan menteri agama Malaysia, Brunei, Indonesia, Singapore) di Singapore, beliau sebagai ketua delegasi Indonesia dan diminta untuk menyampaikan strategi dakwah untuk anak-anak muda. Dan terakhir di bulan Mei 2014 lalu beliau dating ke Istanbul Turki sebagai pintu gerbang masuknya islam di benua Eropa dan beliau merasa terkesan sekaligus terhormat karena mendapatkan kesempatan untuk berbicara di salah satu Universitas di turki untuk berbicara tentang “Bagaimana pendidikan Islam dapat menuntaskan kemiskinan”.





Romantika Keuarga

Ketika masih duduk di bangku SMA, beliau adalah salah seorang aktivis PRAMUKA dan sekaligus sebagai ketua Sanggar Bhakti Kencana jadi beliau termasuk orang yang mengkampanyekan penundaan usia perkawinan dan menyuarakan kepada orang-orang bahwa nikah itu haruslah pada usia 25tahun untuk laki-laki, dan 20 tahun untuk perempuan. Tapi justru beliau menikah pada usia yang masih cukup muda, yaitu pada usia beliau masih 21 tahun dan istrinya (Bu Lela Sa’adah) berusia 23 tahun. Jadi sebelum beliau lulus dari IKIP (UPI), beliau sudah menikah dengan Ibu Lela Sa’adah.
Ketika beliau masih menyandang status sebagai mahasiswa beliau belum begitu terjaga, karena pada dasarnya beliau tidak memiliki latar belakang seorang Kyai, Ulama, Santri. Dan itu bukanlah merupakan suatu kesengajaan, melainkan ketidak tahuan beliau terhadap agama.
Pada suatu saat beliau bertemu dengan Ibu Lela Sa’adah yang kebetulan anak seorang Kyai dan dibesarkan dilingkungan jam’iyah PERSIS yang agak ketat secara fiqhiyah dan melihat Ibu Lela ini berbeda dengan perempuan-perempuan lainnya yang tidak menghiraukan batasan-batasan ikhtilat. Lalu beliau merasa tertarik dengan keanehan tersebut, karena menurutnya perempuan yang seperti ini memiliki misteri dan tantangan. Pada akhirnya beliau memutuskan untuk terus berusaha mendekatinya serta mencoba ngobrol dan entah apa yang mendorong beliau untuk bertanya “mau nggak jadi istri saya ?”.
Kemudian mereka menikah pada tanggal 4 Januari 2002. Namun ketika mereka menikah ustadz Tatan tidak mengeluarkan modal apapun, karena mertua yang menyediakan segalanya. Menurut beliau mertuanya (H. Emon Sastra Negara) adalah orang yang faham terhadap agama, dan salah satu bentuknya adalah beliau memudahkan dan tidak meminta apapun darinya karena mertuanya mengetahui kondisi beliau, walaupun pernikahannya itu dihadiri sekitar tiga ribu orang.
Dari pernikahannya tersebut, mereka telah dikaruniai tiga orang anak, yakni :
1.      Adhfar Aulia Syuhada (10th), seorang anak yang berprestasi seperti pernah menjuarai olimpiade SAINS, dan agama. Dan beberapa waktu lalu ikut salah satu acara edukasi televisi dan lolos hingga empat besar.
2.      Zahra Archie Khalida (8th), bersekolah di Labschool UPI dan memiliki Hobby membaca, juga menulis.
3.      Azridia Al-Haq (5th), bersekolah di TK Pembina dan sebentar lagi masuk SD. Azridia ini memiliki karakter yang sedikit agak ekspresif, relatif pemberani disbanding kakak-kakaknya
Ketiga buah hatinya ini memiliki tiga karakter yang berbeda, walaupun dilahirkan dari Rahim yang sama. Dan dapat dipetik hikmah jika tiga buah hatinya ini dilahirkan dari Rahim yang sama namun memiliki karakter yang berbeda, apalagi mad’u yang kita hadapi terlahir dari Rahim yang berbeda dan cara touch nya juga berbeda, dengan cara pendekatan yang berbeda pula.
Setelah mereka menikah, mereka tinggal di sebuah kontrakan yang berukuran 3x4m dan hidup sangat sederhana dengan penghasilan beliau pada waktu itu sekitar Rp 250.000/Bln dari hasil mengajar bahasa Jerman kepada aak-anak ITB. Merekapun pernah makan dengan garam, goreng tempe, dan itu merupakan bagian dari kenikmatan yang selalu mereka syukuri pada waktu itu.
Namun Alhamdulillah keluarga mereka sekarang hidup dengan cukup mapan, anak-anak beliau bersekolah di sekolah-sekolah terbaik, dan istri beliau mau melanjutkan studi pascasarjana nya selepas menjadi ketua umum Pemudi PERSIS. Hidup aman, nyaman, tentram, dan beliau sebagai kepala keluarga terus berusaha menjadi teladan bagi istri dan anak-anak. Seperti yang sering beliau sampaikan di berbagai kesempatan termasuk dalam timeline facebook beliau bahwa teladan itu jauh lebih efektif untuk mendidik orang ketimbang jutaan tulisan dan jutaan perkataan.





Touch for Teens


Remaja adalah manusia yang berumur antara 12-15 tahun. Seorang remaja adalah seorang yang puber. Yang berumur 16-20 tahun disebut dengan Adolsen (Drost, 1998:224).
Sebagaimana yang telah diketahui, setelah anak dilahirkan, dia harus mengikuti proses pembentukan kepribadian ditengah-tengah keluarga. Mula-mula sebagai anak, ia bertumbuh dan berkembang ditengah-tengah keluarganya mengikuti pola asuh yang diterapkan oleh keluarganya. Barulah beberapa tahun kemudian, ketika bertumbuh dan berkembang sebagai remaja, ia mulai keluar dari lingkungan keluarga yang sempit untuk mengenal berbagai factor di luar keluarganya (Surbakti, 2009 : 30).
Menurut ustadz Tatan Ahmad Santana, cara berdakwah yang paling efektif kepada remaja adalah dengan cara menjadi teladan, karena remaja adalah masa yang paling senang untuk melihat dan meniru. Jika ustadznya tidak dapat menjadi teladan, kyainya menjadi teladan sangat kecil kemungkinan remaja tersebut mengikuti.
Seperti kegiatan yang rutin beliau lakukan di komplek rumahnya, mengajak para remaja untuk footsall setiap hari ahad pukul tujuh sampai pukul Sembilan atau sebelas. Beliau membuat mereka dekat terlebih dahulu, membuat mereka nyaman terlebih dahulu. Jika hati mereka sudah nyaman, sudah dekat dengan beliau, maka kemudian langkah dakwah bisa dilakukan. seperti contoh ketika kita bermain footsall dan kehausan maka kita mempunyai dua pilihan, kita minum sambil berjalan atau sambil duduk. Dan ketika kita minum sambil duduk maka lambat laun anak-anak muda itu akan bertanya kenapa harus sambil duduk ? baru kita mengatakan latasrob qoiman, dan itu adalah bagian dakwah yang efektif. Jadi tidak perlu berbusa-busa ngobrol kebaikan lalu kita tidak dekat dengan anak muda.
Dekati dulu anak-anak muda, ikut arus mereka, fahami karakter mereka, dan kita berdiri diatasnya, lalu kita arahkan arus mereka kea rah kebaikan.





Efektivitas Dakwah atau Formalitas Belaka ?

Dewasa ini para pelaku dakwah (dai) banyak yang melakukan dakwah ini  untuk kebaikan, namun di sisi lain juga ada para pelaku dakwah yang berdakwah dengan berbagai tujuan, seperti untuk mencari popularitas, dsb. Sebagai contoh, ustadz Tatan jika mengisi pengajian di Bank beliau dibayar sebesar tujuh ratus lima puluh ribu untuk empat puluh lima menit saja. Terkadang beliau malu ketika harus menerima uang tersebut, karena di sisi lain seperti guru honorer yang tanggung jawabnya lebih besar dari beliau karena tugas mereka adalah menumbuh kembangkan anak dalam usia yang sedang berkembang dan hanya di gajih dua ratus lima puluh ribu rupiah per bulan oleh negara. Dari contoh tersebut, seharusnya kita harus sudah memiliki dan menumbuhkan rasa malu.
Ustadz Tatan mengkritik pola dakwah sekarang, yang pertama, yakni orientasi dakwah yang orientasinya itu lebih kepada materi, kekuasaan, dan popularitas. Kemudian yang kedua, jika para ustadz dan kyai sudah terjebak dalam kemewahan dan uang, maka lambat laun merekapun akan kehilangan kewibawaan kyainya. Dulu itu ketika orang mendengar suara sandalnya kyai saja mereka sudah pada takut dan tidak berani untuk berjalan di depan kyai karena ada penghargaan kewibawaan atas ilmu dan kesederhanaan. Jika kyai-kyai sekarang tidak dapat menjadi teladan maka dikhawatirkan umat zaman sekarang ini tidak mempunyai teladan hidup. Dan yang terakhir, sekarang itu sudah banyak pengajian yang isinya itu arisan, atau bahkan menghidupkan semangat kreditan.
Suatu ketika beliau pernah datang ke sebuah pengajian ibu-ibu muda kaya, kemudian ada seorang ibu-ibu yang mengintruksikan kepada beliau untuk berceramah hanya dalam waktu tiga puluh menit saja. Setelah pengajian beliau diajak lunch dan beliau melihat ibu-ibu muda tersebut sedang arisan berlian, dan ternyata para ibu-ibu tersebut suka mengadakan arisan selepas pengajian itu sampai jam satu dan terkadang sampai setengah dua, padahal pengajian itu dimulai dari pukul sepuluh. Disana menggambarkan bahwa mereka lebih tertarik dengan hal yang sifatnya duniawi dari pada hal-hal yang bersifat ukhrawi.
Satu pesan dari ustadz Tatan adalah, “ngaji sebagai lifestyle itu bagus, tetapi saya ingin justru lebih dari itu. Ngaji itu harus mempengaruhi gaya hidup, dan jangan menjadikan ngaji itu untuk dilihat orang kita rajin mengaji, ajang sosialita, selesai. Sedangkan esensi dari pengajiannya itu tidak mempengaruhi gaya hidup”.
Antara Profesi dan Hobby

Menurut kamus besar bahasa Indonesia modern, “profesi” berarti pekerjaan yang dilandasi dengan keahlian, yaitu yang berasal dari kata profeteor yang berarti, mengumumkan, menyatakan kepercayaan, menegaskan, membuka, mengakui dan membenarkan. Jadi, profesi dapat dikatakan sebagai suatu kegiatan atau usaha (trade) yang oleh pelaksana atau pelakunya dinyatakan secara terbuka dan di depan umum (Nafsiah, 2000:67).
Sedangkan hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang untuk menenangkan pikiran seseorang. kata Hobi merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris "Hobby" (http://id.wikipedia.org/wiki/Hobi, 25 Desember 2014. 09 : 12).
Menurut ustadz Tatan Ahmad Santana, dakwah dan mendidik itu adalah mengasihi dan menginspirasi. Rasa cinta beliau terhadap orang tidak dapat diekspresikan dengan bunga, meberi coklat, memberikan kendaraan, dan lain sebagainya. Dan rasa kasih sayang beliau itu beliau eksperesikan lewat mendidik, karena beliau sangat yakin dengan ilmu kehidupan seseorang akan jadi lebih baik. Menurutnya bukan hanya mendidik dalam ranah kognitif atau pengetahuan saja, namun lebih dari itu dalam kehidupan sehari-hari.
Kita banyak menemukan orang berubah nasibnya, berubah kondisi keluarganya dari hasil pendidikan dan ilmu yang mereka punya, seperti Andrea Hirata  di laskar pelangi, dan juga termasuk beliau sendiri. Menurut beliau, karena beliau mendapatkan kehormatan untuk mendapatkan pendidikan maka kehidupan beliau sekarang jauh lebih baik dari kehidupan beliau puluhan tahun yang lalu.
Yang kedua dakwah atau mendidik itu menginspirasi, berdakwah atau mendidik itu harus menginspirasi orang agar jauh lebih baik dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang dapat menjadi teladan bagi orang lain.
Menurut beliau, dai dan pendidik itu bukanlah suatu profesi, melainkan sebagai tuntutan dari Allah SWT yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. Memang benar jika dilihat dari kacamata definisi profesi beliau adalah seorang pendidik, namun beliau enggan mengakui itu sebagai profesi melinkan sebagai sebuah hobi, karena beliau sangatlah gemar berbicara walaupun tidak dibayar.
Menurut beliau, beliau adalah seorang pedagang yang bodoh jika orang-orang marketing yang berbicara, Karena beliau adalah seorang trainer dan juga dai yang mempunyai ilmu namun enggan untuk mematok tarif, atau bayaran jika beliau diminta untuk mencampaikan ilmu yang beliau miliki. Beliau akan datang dengan berapapun bayarannya atau tidak dibayar sama sekali.
Dalam kehidupannya, ustadz Tatan Ahmad Santana adalah seorang pribadi yang sederhana. Salah satu produk yang beliau miliki dan dapat  dijual hanyalah ilmu, dan kerena beliau hanya meiliki satu produk saja untuk dijual maka beliaupun enggan untuk menjualnya. Inilah salah satu contoh teladan yang beliau berikan bagi para pendidik yang lain.
Sebagai contoh, beberapa waktu lalu beliau diundang dalam lingkar bidik misi UPI dan bertemu sekitar tiga ribu anak bangsa yang diberi kehormatan oleh bangsa ini untuk kemudian hidup lebih baik, mendapatkan beasiswa, menjadi manusia teladan, manusia berpendidikan, mereka diberikan uang oleh negara untuk masuk kuliah. Kemudian beliau diajak ngobrol oleh presiden bidik misi UPI dan ditanya kesediaan beliau mengisi materi juga jumlah nominal yang Ustadz Tatan inginkan dari penyampaian materinya tersebut, karena biasanya para pemateri selalu mematok harga dan sound system dengan kekuatan tertentu. Lalu ustadz Tatan sontak menjawab “kalian tidak punya uangpun saya datang”.
Beliau bekerja sebagai seorang trainer yang tidak beliau jalankan secara professional, karena beliau tidak pernah mematok tariff ataupun bayaran kepada siapa saja yang mengundangnya. Beliau menghidupi keluarganya dari pekerjaan sebagai trainer dan orang-orang yang ikhlas membantu (membayar) kehidupan beliau.
Walaupun demikian kuasa Allah tak dapat dihalangi oleh siapapun dan apapun, meski tak pernah menentukan tariff dari pekerjaannya kehidupan beliau baik-baik saja, bahkan beliau masih sempat pergi keluar negeri minimal dua kali dalam satu tahun karena diundang ataupun hanya sekedar berlibur saja.
Dalam usianya yang masih cukup muda (33th) beliau sudah merasa puas dengan kehidupan dunianya, dan kata beliau jika Allah memberikannya usia sama seperti nabi Muhammad maka setengah dari kehidupan beliau tinggal mencari menginfestasikan amalan untuk kehidupan negeri akhirat yang kekal.






Epilog (Penutup)

Dakwah adalah usaha dalam mengajak manusia kepada Islam, menerapkan manhaj, atau aturannya, memeluk aqidahnya, dan melaksanakan syariatnya. Sedangkan da’I adalah orang yang berdakwah atau orang pertama dala berdakwah.
Tatan ahmad Santana merupakan dai teladan yang harus dijadikan sebagai contoh bagi dai-dai lainnya karena dewasa ini banyak sekali  para pelaku dakwah yang menjadikan dakwah sebagai ladang atau ajang mencari popularitas, kekuasaan, dan materi saja. Orientasi tersebut sudah jelas bertentangan dengan orientasi dakwah islam secara umum.
Ketika para pelaku dakwah sudah beorientasi pada popularitas, kekuasaan, atau materi maka dapat dipastikan tujuan utama dari dakwah untuk memberikan penerangan kepada umata akan lambat laun luntur.
Pelajaran yang dapat kita dapat ambil dari kehidupan ustadz Tatan Ahmad Santana juga beliau adalah pribadi yang sederhana, dan dalam mendidik tidakk pernah mematok tarif, karena beliau yakin bahwa rezeki seseorang takan pernah hilang, asal kita terus berusaha, dan mensyukuri nikmat dari Allah maka Allah akan menambahkan nikmatnya.
Beliau sangat berkontribusi khususnya dalam dunia pendidikan, beliau mencintai orang yang ditunjukan dalam mengasihi dan menginspirasi orang lain. Beliau tidak pernah menjual sesuatu dan satu-satunya produk yang beliau punya hanyalah ilmu. Karena ilmu adalah satu-satunya produk yang beliau miliki, maka beliaupun enggan untuk mendagangkannya.
Kehidupannya sekarang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupannya puluhan tahun yang lalu, selain itu atas scenario Allah disamping itu juga karena pendidikan yang dapat merubah hidupnya, dan beliau tidak pernah untuk mencita-citakan mewariskan harta pada anak-anaknya tetapi ilmulah yang ingin beliau wariskan.
Kenali madu dan karakternya, karena setiap madu tidak dapat di sentuh dengan cara yang sama. Beliau menggambarkan dengan putra-putrinya yang dilahirkan dari Rahim yang sama namun memiliki karakter yang berbeda dan tidak dapat memakai pola asuh yang sama, palagi madu yang begitu banyak juga lahir dari Rahim yang berbeda maka sudah barang tentu kita harus mendidiknya dengan cara yang berbeda pula.

Galeri Apresiasi

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan banyak kenikmatan, tak lupa saya ucapkan banyak terimakasih kepada beberapa pihak yang telah membantu dalam pembuatan buku biografi ini, yakni :
1.      Kedua orang tua, yang telah memberikan dorongan berupa moril maupun materi;
2.      Bp. Asep Iwan Setiawan, S.Ag., M.Ag. Selaku dosen mata kuliah Etika Dakwah yang telah memberikan ilmu dan bekal untuk penulisan buku ini;
3.      Ustadz Tatan Ahmad Santan, selaku tokoh inspiratif yang telah bersedia di angkat biografinya dalam buku ini;
4.      Rekan-rekan seperjuangan yang telah memberikan cerita indah disalah satu episode hidup penulis.
dan berbagai pihak yang tak dapat saya tuliskan satu persatu, karena lagi-lagi harus dibatasi dengan lembar kertas dan ingatan.
Tidak tahu dengan cara apa saya harus membalas jasa mereka semua, hanya satu yang dapat penulis berikan, yaitu do’a yang tulus dari dalam hati dan dipanjatkan kepada Allah SWT. Semoga mereka dapat terus diberikan kebaikan oleh Allah SWT. Aamiin.









Jepret Kamera

Daftar Pustaka
J.I.G.M. Drost, S.J., 1998, Sekolah Mengajar atau Mendidik. Yogyakarta : Kanisius
Nafsiah Siti, 2000, Prof.Hembing Pemenang The Star of Asia Award. Jakarta : Prestasi Insan Indonesia
Surbakti. E.B, Drs., M.A. 2009, Kenalilah Anak Ramaja Anda. Jakarta : PT.Elex Media Komputindo
Syabib Ahmad, Why Not Remaja Jadi Da’I ?. Jakarta : Mizan
http://kbbi.web.id/modernisme


Tidak ada komentar:

Posting Komentar