Selasa, 12 April 2016

PENGARUH BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK Terhadap KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI dalam LINGKUNGAN PESANTREN

PENGARUH BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK
Terhadap KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI dalam LINGKUNGAN PESANTREN
Diajukan untuk memenuhi tugas mandiri mata kuliah Komunikasi Bimbingan dan Konseling


                                          
Disusun Oleh :
Asep Muhamad Ramdhan
1134010016
BKI IV A
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari interaksi dengan manusia lainnya, rasa ingin tahu yang tinggi menuntut manusia agar senatiasa berkomunikasi dengan manusia lainnya, baik itu secara verbal maupun non-verbal. Dalam kehidupannya, manusia yang kurang berkomunikasi setidaknya akan terisolir atau sedikit jauh dari masyarakat dan orang-orang yang ada disekitarnya. Akibat kurangnya komunikasi inilah, dikhawatirkan akan menimbulkan masalah yang lebih kompleks. Santri adalah salah satu bagian dari masyarakat tersebut, karena mereka akan menjadi generasi penerus dalam kehidupan bermasyarakat dan akan sering bersentuhan dengan tugas yang harus mereka emban. Dalam hal ini, para santri mendapatkan pembelajaran formal di lembaga Pesantren yang akan menjadikan mereka faham akan tugas mereka dimasa yang akan datang.
Dalam lingkungan pesantren yang menerapkan full day and Boarding system, tentunya banyak sekali permasalahan yang dihadapi para santri di lingkungan pesantren tersebut. Konseling merupakan upaya untuk membantu para santri untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Proses kemandirian individu tidak terlepas dari komunikasi dalam proses sosialisasi dilingkungan dimana individu tersebut berada. Dengan komunikasi inilah individu dapat melangsungkan hidupnya baik di lingkungan keluarga, pesantren, atau masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah
Supaya lebih menuju pada permasalahan-nya agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penulisan makalah ini, maka penulis mencoba membatasi masalah-nya dengan perumusan sebagai berikut :
a)         Apa pengertian Konseling Kelompok ?
b)        Apa Pengertian Komunikasi AntarPribadi ?
c)         Apa fungsi Komunikasi AntarPribadi ?
d)        Apa tujuan konseling kelompok ?
e)         Apa asas-asas bimbingan kelompok ?
f)          Apa tahap-tahap bimbingan kelompok ?
g)         apa langkah-langkah pelaksanaan bimbingan kelompok ?
h)        bagaimana teknik layanan bimbingan kelompok ?
i)           bagaimana Keefektifan Layanan Bimbingan  Kelompok Dalam Meningkatkan keterampilan komunikasi antarpribadi ?




1.3   Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam penyusunan makalah ini adalah :
a)         Untuk mengetahui pengertian Konseling Kelompok ?
b)        Untuk mengetahui Pengertian Komunikasi AntarPribadi ?
c)         Untuk mengetahui fungsi Komunikasi AntarPribadi ?
d)        Untuk mengetahui tujuan konseling kelompok ?
e)         Untuk mengetahui asas-asas bimbingan kelompok ?
f)          Untuk mengetahui tahap-tahap bimbingan kelompok ?
g)         Untuk mengetahui langkah-langkah pelaksanaan bimbingan kelompok ?
h)        Untuk mengetahui teknik layanan bimbingan kelompok ?
i)           Untuk mengetahui Keefektifan Layanan Bimbingan  Kelompok Dalam Meningkatkan keterampilan komunikasi antarpribadi ?

1.4   Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan bibiliografi atau metode kepustakaan melalui beberapa langkah, diantara-nya :
Langkah pertama : Mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan bahasan
Langkah kedua    : Mengklasifikasi bahan
Langkahketiga:        Menganalisa sejumlah buku yang berkaitan                                                      dengan masalah-masalah yang dibahas



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Konseling Kelompok
Merupakan suatu proses dimana konselor terlibat dalam hubungan dengan sejumplah klien pada waktu yang sama. Jumplahnya dapat bervariasi yang ideal maksimal 6 orang , meskipun biasanya berkisar antara 4 sampai 8 orang.
Konseling kelompok mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang berguna bagi pengembangan, pribadi dan atau pemecahan masalah individu yang menjadi peserta kegiatan kelompok.. Dalam KKp di bahas masalah pribadi yang di alami oleh masing-masing anggota kelompok.baik topik umum maupun masalah pribadi di bahas melalui suasana  dinamika kelompok yang intens dan konstruk, yang di ikuti oleh semua anggota di bawah bimbingan pemimpin kelompok ( konselor). Layanan KKp dapat dilakukan dimana saja , Dimanapun kegiatan KKp itu dilakukan , harus terjamin bahwa  dinamika kelompok dapat berkembang dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan layanan (Prayitno : 2004) .

2.2    Pengertian Komunikasi AntarPribadi
Komunikasi berasal dari bahasa latin “communicare” yang artinya memberitahukan, berpartisipasi. Kata komunis berarti milik bersama atau berlaku dimana-mana (Liliweri, 1991:3).
Komunikasi interpersonal (interpersonal communication) disebut juga dengan komunikasi antarpribadi. Diambil dari terjemahan kata interpersonal, yang terbagi dalam dua kata, inter berarti antara atau antar, dan personal berarti pribadi. Sedangkan definisi umum komunikasi interpersonal adalah komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap peserta menagkap reaksi yang lain secara langsung, baik secara verbal maupun non-verbal (Enjang A.S:2009).
Sedangkan menurut Deddy Mulyana dalam (Enjang A.S:2009), bentuk khusus komunikasi interpersonal ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang. Seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, dan sebagainya. Ciri-ciri komunikasi diadik adalah pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang dekat; pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun non-verbal.
Dalam pelaksanaan komunikasi interpersonal, sebelumnya terjadi dulu komunikasi intra pribadi, yaitu komunikasi dengan diri sendiri, misalnya berpikir. Komunikasi ini merupakan landasan komunikasi interpersonal, dan komunikasi dalam konteks-konteks lainnya, meskipun disiplin komunikasi tidak dibahas dalam komunikasi dua orang, dan seterusnya. Karena sebelum berkomunikasi dengan orang lain, biasanya berkomunikasi dulu dengan diri sendiri.

2.3      Fungsi Komunikasi Antarpribadi
Tanpa kita sadari, keberadaan komunikasi interpersonal telah berperan aktif dalam kehidupan, bahkan tidak sedikit manusia yang melakukan praktik komunikasi interpersonal ini. Jadi dapat dibuat formulanya dari fungsi komunikasi interpersonal, yaitu :
1.      Memenuhi kebutuhan social dan psikologis;
2.      Mengembangkan kesadaran diri;
3.      Matang akan konvensi social;
4.      Konsistensi hubungan dengan orang lain;
5.      Mendapatkan informasi yang banyak;
6.      Bisa mempengaruhi atau dipengaruhi orang lain (Enjang AS:2009).
2.4    Tujuan Bimbingan kelompok
Tujuan bimbingan kelompok seperti yang dikemukakan oleh (Prayitno, 1995: 178) adalah:
a. Mampu berbicara di depan orang banyak
b. Mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan danlain sebagainya kepada orang banyak.
c. Belajar menghargai pendapat orang lain,
d. Bertanggung jawab atas pendapat yang dikemukakannya.
e. Mampu mengendalikan diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan
    yang bersifat negatif).
f. Dapat bertenggang rasa
g. Menjadi akrab satu sama lainnya,
h. Membahas masalah atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama
Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).
Layanan bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya individu dapat mengembangkan potensi diri serta dapat meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi yang dimiliki.
2.5    Asas-asas Bimbingan kelompok
1)      Asas kerahasiaan
Para anggota harus menyimpan dan merahasiakan informasi apa yang dibahas dalam kelompok, terutama hal-hal yang tidak layak diketahui orang lain
2)      Asas keterbukaan
Para anggota bebas dan terbuka mengemukakan pendapat, ide, saran, tentang apa saja yang yang dirasakan dan dipikirkannya tanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.
3)      Asas kesukarelaan
Semua anggota dapat menampilkan diri secara spontan tanpa malu atau dipaksa oleh teman lain atu pemimpin kelompok.
4)      Asas kenormatifan
Semua yang dibicarakan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma-norma dan kebiasaan yang berlaku.


2.6    Tahap-tahap Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok berlangsung melalui empat tahap. Menurut (Prayitno, 1995: 44-60) tahap-tahap bimbingan kelompok adalah sebagai berikut:
a) Tahap Pembentukan
Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkakan diri kedalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan masing-masing anggota. Pemimpin kelompok menjelaskan cara-cara dan asas-asas kegiatan bimbingan kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengadakan permainan untuk mengakrabkan masing-masing anggota sehingga menunjukkan sikap hangat, tulus dan penuh empati.
b) Tahap Peralihan
Sebelum melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang sebenarnya, pemimpin kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh anggota kelompok pada tahap kegiatan lebih lanjut dalam kegiatan kelompok. Pemimpin kelompok menjelaskan peranan anggota kelompok dalam kegiatan, kemudian menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya. Dalam tahap ini pemimpin kelompok mampu menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka. Tahap kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan ketiga. Dalam hal ini pemimpin kelompok membawa para anggota meniti jembatan tersebut dengan selamat. Bila perlu, beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap pertama seperti tujuan dan asas-asas kegiatan kelompok ditegaskan dan dimantapkan kembali, sehingga anggota kelompok telah siap melaksankan tahap bimbingan kelompok selanjutnya.
c) Tahap kegiatan
Tahap ini merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun, kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap ini amat tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya. Jika dua tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ketiga itu akan berhasil dengan lancar. Pemimpin kelompok dapat lebih santai dan membiarkan para anggota sendiri yang melakukan kegiatan tanpa banyak campur tangan dari pemimpin kelompok. Di sini prinsip tut wuri handayani dapat diterapkan. Tahap kegiatan ini merupakan tahap inti dimana masing-masing anggota kelompok saling berinteraksi memberikan tanggapan dan lain sebagainya yang menunjukkan hidupnya kegiatan bimbingan kelompok yang pada akhirnya membawa kearah bimbingan kelompok sesuai tujuan yang diharapkan.
d) Tahap Pengakhiran
Pada tahap ini merupakan tahap berhentinya kegiatan. Dalam pengakhiran ini terdapat kesepakatan kelompok apakah kelompok akan melanjutkan kegiatan dan bertemu kembali serta berapa kali kelompok itu bertemu. Dengan kata lain kelompok yang menetapkan sendiri kapan kelompok itu akan melakukan kegiatan. Dapat disebutkan kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah:
(1) Penyampaian pengakhiran kegiatan oleh pemimpin kelompok
(2)  Pengungkapan kesan-kesan dari anggota kelompok
(3)  Penyampaian tanggapan-tanggapan dari masing-masing anggota kelompok
(4)  Pembahasan kegiatan lanjutan
(5)  Penutup
2.7    Langkah-langkah pelaksanaan bimbingan kelompok
a.  Masing-masing anggota kelompok  dalam bimbingan kelompok secara bebas dan sukarela berbicara, bertanya, mengeluarkan pendapat, ide, sikap, saran, serta perasaan yang dirasakannya pada
saat itu.
b.  Mendengarkan dengan baik bila anggota kelompok berbicara, yaitu setiap salah satu anggota kelompok menyampaikan tanggapan, maka anggota kelompok lainnya memperhatikannya, karena dengan memperhatikannya maka akan mudah untuk saling menanggapi pendapat lain, sehingga akan menumbuhkan dinamika kelompok di dalam kegiatan bimbingan kelompok tersebut.
c.  Mengikuti aturan yang ditetapkan oleh kelompok dalam bimbingan kelompok, yaitu dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dibuat semacam kesepakatan antara pemimpin kelompok dengan para anggota kelompok, sehingga diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai yang diharapkan oleh kedua belah pihak.
d.  Mengadakan evaluasi setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir.  Evaluasi dalam hal ini dilakukan pemimpin kelompok setiap berakhirnya pertemuan dan evaluasi secara keseluruhan setiap pertemuan kelompok.

2.8    Teknik layanan bimbingan kelompok
Menurut Willis (2007:15) teknik bimbingan kelompok adalah (a) Teknik diskusi: diikuti oleh beberapa siswa satu kelas. Dipimpin oleh guru atau siswa yang cerdas. Pembicaraan berkisar persoalan bersama, seperti prestasi belajar, peningkatan kreativitas dalam seni, kerja sosisal dan lain-lain. (b) Dinamika kelompok: jumlah anggotanya paling banyak 8-10 orang. Proses diskusi berjalan dinamik, artinya setiap orang bebas mengemukakan pendapat atau mendiskusikan masalahnya. Anggota lain berupaya memberikan urun pendapat bagi pemecahan masalah. Pada umumnya dinamika kelompok mempunyai topik yang sama. (c) Ceramah: bimbingan kelompok yang menggunakan metode ceramah dapat dilakukan oleh konselor, guru-guru, pimpinan dan tokoh masyarakat. Tujuannya adalah agar dapat membantu anggota dapat mengubah perilakunya dalam memecahkan persolan hidup. Biasanya ceramah diikuti dengan diskusi agarpermasalan anggota lebih mendalam. (d) Program homeroom: suatu program kelompok yang direkayasa pemimpin kelompok agar tercipta suasana seperti dirumah yaitu bebas, terbuka, santai dan blak-blakkan. Dengan demikian para anggota dapat mengemukakan aspirasi dan kecemasannya secara bebas dan tanpa merasa takut dimarahi. (e) Sosiodrama: metode kelompok dengan menggunakan media drama sosial ataukehidupan nyata di masyarakat yang susuai dengan masalah yang di hadapi anggota. Dengan demikian mereka dapat belajar bagaimana akibat sesuatu perbuatan yang negatif atau bagaimana cara berbuat baik. (f) Psikodrama: suatu metode kelompok dengan menggunakan suatu media drama kejiwaan yang menyentuh sehingga dampak positif bagi perubahan perilaku anggota kelompok. Lamanya psikodrama lebih kurang 10 menit. (g) Karyawisata: metode kelompok ini amat bermakna bagi anggota yang mengalami stres karena kelamaan proses balajar atau bekerja. Dengan berwisata akan terjadi pelepasan energi lelah, cemas dan duka. Kemudian diantara mereka akan lebih akrab dan mengeluarkan segala isi hatinya dengan lawan bicara. Pembimbing biasa memanfaatkan media ini untuk memperoleh informasi langsung mengenai kekurangan dan kelebihansiswa dan bagaimana cara mengatasi menurut versi para anggota kelompok. (h) Metode tugas: dengan memberi tugas bersama/berkelompok akan terjalin kerjasama, setia kawan, persahabatan dan juga pelepasan uneg-uneg yang kurang disenangi dengan cara bebas. Tugas tersebut berupa pekerjaan tangan, menggambar bersama, karangan, obsevasi, laporan dan sebagainya.
Sedangkan menurut pendapat Tohirin (2007:173) ada beberapa teknik yang bisa diterapkan dalam layanan biambingan kelompok yaitu teknik umum dan permainan kelompok.
a.             Teknik umum
Dalam teknik ini dilakukan pengembangan dinamika kelompok, meliputi
1.   Komunikasi multi arah secara aktif, dinamis dan tebuka,
2.   Pemberian rangsangan untuk menimbulkan inisiatif dalam pembahasan, diskusi, analisis, dan pengembangan argumentasi,
3.   Dorongan minimal untuk menetapkan respons dan aktivitas anggotakelompok,
4.   Penjelasan, pendalaman, dan pemberian contoh untuk lebih memantapkan analisis, argumentasi, dan pembahasan,
5.   Pelatihan untuk membentuk pola tingkah laku baru yang dihendaki.
b.      Permainan kelompok
Permainan dapat dijadikan sebagai salah satu teknik dalam layanan bimbingan kelompok baik dari selingan maupun sebagai wahana yang memuat materi pembinaan atau materi layanan tertentu. Teknik pemainan dalam layanan bimbingankelompok harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1.   Sederhana,
2.    Menggembirakan,
3.   Menimbulkan suasana rilek dan tidak melelahkan,
4.   Meningkatkan keakraban,
5.   Diikuti oleh semua anggota kelompok.
Dari berbagai teknik tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa semua teknik bimbingan kelompok tesebut bisa diterpkan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok di sekolah menengah pertama. Dengan menggunakan teknik yanng bervariasi tersebut pelaksanaan layanan bimbingan kelompok tidak membosankan, sehingga siswa menjadi tertarik dan bersemangat untuk berperan serta dalam layanan bimbingan kelompok.

2.9    Keefektifan Layanan Bimbingan  Kelompok Dalam Meningkatkan keterampilan komunikasi antarpribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan proses kegiatan manusia yang terdiri dari dua orang atau lebih yang saling bertukar informasi, pengetahuan, pikiran, agar dapat menggugah partisipasi satu sama lain.  Ciri-ciri siswa yang memiliki perilaku komunikasi antar pribadi yang efektif adalah memiliki keterbukaan (Openess), yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi, dapat berempati (Empathy), yaitu merasakan apa yang dirasakan orang lain, dukungan (Supportiveness), yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif, memiliki rasa positif (positivenes), seseorangharus memiliki perasaan positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif, merasa setara dengan orang lain  (Equality), yaitu pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.
Komunikasi antarpribadi merupakan hal penting dalam hidup santri, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun lingkungan masyarakat.  Lingkungan pesantren adalah tempat  yang paling banyak digunakan santri berinteraksi, sehingga banyak pula komunikasi antarpribadi dilakukan santri di pesantren.  Dengan komunikasi antarpribadi, santri akan dengan mudah memperoleh pemahaman dari guru pada saat pembelajaran.  Melalui komunikasi antarpribadi pula santri dapat mengembangkan pengetahuannya, yaitu belajar dari pengalamannya, maupun informasi yang mereka terima dari guru dan dari lingkungan sekitarnya.
Santri dikatakan memiliki perilaku komunikasi antarpribadi yang efektif apabila ia mampu menanggapi informasi yang diterima dengan senang hati dalam menghadapi hubungan antar pribadi, dapat berempati, artinya mampumerasakan apa yang dirasakan orang lain, mendukung komunikasi berlangsung efektif, memiliki rasa positif, yaitu memandang diri dan orang lain secara positif serta menghargai orang lain.  Santri menganggap bahwa pertemuan komunikasi merupakan hal  yang menyenangkan bagi santri, bila berkumpul dengan satu kelompok merasa setara, gembira dan terbuka. 
Konseling kelompok adalah bimbingan yang diberikan kepada sekelompok individu yang mengalami masalah yang sama dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu interaksi masing-masing anggota yang menghidupkan proses kegiatan bimbingan kelompok.  Melalui dinamika kelompok tersebut diharapkan masing-masing anggota memperoleh informasi atau topik-topik yang dibahas bersama, serta pengetahuan dan pengalaman yang nantinya dapat dikembangkan secara optimal sesuai dengan tugas perkembangan yang seharusnya dilaksanakan.
Tujuan konseling kelompok diantaranya adalah setiap anggota kelompok mampu mengeluarkan pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan, dan lain sebagainya, mampu berbicara di depan orang banyak, belajar menghargai pendapat orang lain, menjadi akrab satu sama lainnya, mampu mengendalikan diri dan dapat bertenggang rasa.  Dengan mampu mengeluarkan pendapat, berbicara, menghargai orang lain dan bertenggang rasa, berarti santri akan dapat dengan mudah bersosialisasi, mudah memperoleh pemahaman dalam pembelajaran di sekolah, dapat mengembangkan pengetahuannya, yakni belajar dari pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka terima dari lingkungannya. Secara otomatis santri telah memiliki komunikasi antarpribadi yang baik.







BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian bimbingan kelompok dinyatakan efektif dalam meningkatkan keterbukaan diri  santri.  Tumbuhnya keterbukaan diri merupakan dampak dari perilaku komunikasi antarpribadi yang efektif .  Komunikasi antar pribadi efektif jika pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi santri.  Jika santri berkumpul dalam satu kelompok, santri merasa senang , gembira dan terbuka.  Untuk menunjukkan keefektifan tersebut dilaksanakan melalui kegiatan layanan bimbingan kelompok pada santri.
Dengan demikian layanan bimbingan kelompok ini diperkirakan efektif dalam meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi santri. Dari uraian di atas dapat di  simpulkan bahwa layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi santri.  Kegiatan  bimbingan kelompok ini membahas topik-topik umum atau topik-topik remaja yang menunjang dalam  meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi santri.




DAFTAR PUSTAKA

AS, Enjang, Drs, Komunikasi Konseling, Bandung, Nuansa, 2009.
Liliweri, Alo, Komunikasi Antar Pribadi, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 1997.
Prayitno dan Amti, Erman, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta, 1994.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar