PENGARUH
BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK
Terhadap KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
dalam LINGKUNGAN PESANTREN
Diajukan
untuk memenuhi tugas mandiri mata kuliah Komunikasi Bimbingan dan Konseling
Disusun Oleh :
Asep Muhamad Ramdhan
1134010016
BKI IV A
BIMBINGAN
DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS
DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
SUNAN
GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah
Manusia
sebagai makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari interaksi dengan manusia
lainnya, rasa ingin tahu yang tinggi menuntut manusia agar senatiasa
berkomunikasi dengan manusia lainnya, baik itu secara verbal maupun non-verbal.
Dalam kehidupannya, manusia yang kurang berkomunikasi setidaknya akan terisolir
atau sedikit jauh dari masyarakat dan orang-orang yang ada disekitarnya. Akibat
kurangnya komunikasi inilah, dikhawatirkan akan menimbulkan masalah yang lebih
kompleks. Santri adalah salah satu bagian dari masyarakat tersebut, karena
mereka akan menjadi generasi penerus dalam kehidupan bermasyarakat dan akan
sering bersentuhan dengan tugas yang harus mereka emban. Dalam hal ini, para
santri mendapatkan pembelajaran formal di lembaga Pesantren yang akan
menjadikan mereka faham akan tugas mereka dimasa yang akan datang.
Dalam
lingkungan pesantren yang menerapkan full
day and Boarding system, tentunya banyak sekali permasalahan yang dihadapi
para santri di lingkungan pesantren tersebut. Konseling merupakan upaya untuk
membantu para santri untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Proses
kemandirian individu tidak terlepas dari komunikasi dalam proses sosialisasi
dilingkungan dimana individu tersebut berada. Dengan komunikasi inilah individu
dapat melangsungkan hidupnya baik di lingkungan keluarga, pesantren, atau
masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Supaya lebih menuju pada
permasalahan-nya agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penulisan makalah
ini, maka penulis mencoba membatasi masalah-nya dengan perumusan sebagai
berikut :
a)
Apa pengertian Konseling Kelompok ?
b)
Apa Pengertian Komunikasi AntarPribadi ?
c)
Apa fungsi
Komunikasi AntarPribadi ?
d)
Apa tujuan konseling kelompok ?
e)
Apa asas-asas bimbingan kelompok ?
f)
Apa tahap-tahap bimbingan kelompok
?
g)
apa
langkah-langkah pelaksanaan bimbingan kelompok ?
h)
bagaimana
teknik layanan bimbingan kelompok ?
i)
bagaimana Keefektifan
Layanan Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan keterampilan
komunikasi antarpribadi ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam penyusunan makalah ini adalah :
a)
Untuk mengetahui pengertian Konseling Kelompok ?
b)
Untuk mengetahui Pengertian Komunikasi AntarPribadi ?
c)
Untuk mengetahui fungsi
Komunikasi AntarPribadi ?
d)
Untuk mengetahui tujuan konseling
kelompok ?
e)
Untuk mengetahui asas-asas
bimbingan kelompok ?
f)
Untuk mengetahui tahap-tahap
bimbingan kelompok ?
g)
Untuk mengetahui langkah-langkah pelaksanaan bimbingan
kelompok ?
h)
Untuk mengetahui teknik layanan bimbingan kelompok ?
i)
Untuk mengetahui
Keefektifan Layanan Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan keterampilan
komunikasi antarpribadi ?
1.4 Metode
Penulisan
Dalam
penulisan makalah ini penulis
menggunakan bibiliografi atau metode kepustakaan melalui beberapa langkah,
diantara-nya :
Langkah
pertama : Mengumpulkan bahan yang berkaitan dengan bahasan
Langkah
kedua : Mengklasifikasi bahan
Langkahketiga: Menganalisa sejumlah buku yang
berkaitan
dengan masalah-masalah yang dibahas
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Konseling Kelompok
Merupakan
suatu proses dimana konselor terlibat dalam hubungan dengan sejumplah klien
pada waktu yang sama. Jumplahnya dapat bervariasi yang ideal maksimal 6 orang ,
meskipun biasanya berkisar antara 4 sampai 8 orang.
Konseling
kelompok mengaktifkan dinamika kelompok untuk membahas berbagai hal yang
berguna bagi pengembangan, pribadi dan atau pemecahan masalah individu yang
menjadi peserta kegiatan kelompok.. Dalam KKp di bahas masalah pribadi
yang di alami oleh masing-masing anggota kelompok.baik topik umum maupun
masalah pribadi di bahas melalui suasana dinamika kelompok yang
intens dan konstruk, yang di ikuti oleh semua anggota di bawah bimbingan
pemimpin kelompok ( konselor). Layanan KKp dapat dilakukan dimana saja ,
Dimanapun kegiatan KKp itu dilakukan , harus terjamin bahwa dinamika
kelompok dapat berkembang dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan layanan
(Prayitno : 2004) .
2.2 Pengertian Komunikasi AntarPribadi
Komunikasi berasal dari bahasa
latin “communicare” yang artinya
memberitahukan, berpartisipasi. Kata komunis berarti milik bersama atau berlaku
dimana-mana (Liliweri, 1991:3).
Komunikasi
interpersonal (interpersonal
communication) disebut juga dengan komunikasi antarpribadi. Diambil dari
terjemahan kata interpersonal, yang
terbagi dalam dua kata, inter berarti
antara atau antar, dan personal
berarti pribadi. Sedangkan definisi umum komunikasi interpersonal adalah
komunikasi antar orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap
peserta menagkap reaksi yang lain secara langsung, baik secara verbal maupun
non-verbal (Enjang A.S:2009).
Sedangkan
menurut Deddy Mulyana dalam (Enjang A.S:2009), bentuk khusus komunikasi
interpersonal ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang.
Seperti suami istri, dua sejawat, dua sahabat dekat, dan sebagainya. Ciri-ciri
komunikasi diadik adalah pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak yang
dekat; pihak-pihak yang berkomunikasi mengirim secara simultan dan spontan,
baik secara verbal maupun non-verbal.
Dalam
pelaksanaan komunikasi interpersonal, sebelumnya terjadi dulu komunikasi intra
pribadi, yaitu komunikasi dengan diri sendiri, misalnya berpikir. Komunikasi
ini merupakan landasan komunikasi interpersonal, dan komunikasi dalam
konteks-konteks lainnya, meskipun disiplin komunikasi tidak dibahas dalam
komunikasi dua orang, dan seterusnya. Karena sebelum berkomunikasi dengan orang
lain, biasanya berkomunikasi dulu dengan diri sendiri.
2.3 Fungsi
Komunikasi Antarpribadi
Tanpa kita
sadari, keberadaan komunikasi interpersonal telah berperan aktif dalam
kehidupan, bahkan tidak sedikit manusia yang melakukan praktik komunikasi
interpersonal ini. Jadi dapat dibuat formulanya dari fungsi komunikasi
interpersonal, yaitu :
1.
Memenuhi
kebutuhan social dan psikologis;
2.
Mengembangkan
kesadaran diri;
3.
Matang akan
konvensi social;
4.
Konsistensi
hubungan dengan orang lain;
5.
Mendapatkan
informasi yang banyak;
6.
Bisa
mempengaruhi atau dipengaruhi orang lain (Enjang AS:2009).
2.4 Tujuan Bimbingan kelompok
Tujuan bimbingan
kelompok seperti yang dikemukakan oleh (Prayitno, 1995: 178) adalah:
a.
Mampu berbicara di depan orang banyak
b. Mampu mengeluarkan
pendapat, ide, saran, tanggapan, perasaan danlain sebagainya kepada orang
banyak.
c. Belajar menghargai
pendapat orang lain,
d. Bertanggung jawab
atas pendapat yang dikemukakannya.
e. Mampu mengendalikan
diri dan menahan emosi (gejolak kejiwaan
yang bersifat negatif).
f. Dapat bertenggang
rasa
g. Menjadi akrab satu
sama lainnya,
h. Membahas masalah
atau topik-topik umum yang dirasakan atau menjadi kepentingan bersama
Layanan
bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama
memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama guru pembimbing) yang
bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai
pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. (Sukardi, 2003: 48).
Layanan
bimbingan kelompok merupakan media pengembangan diri untuk dapat berlatih
berbicara, menanggapi, memberi menerima pendapat orang lain, membina sikap dan
perilaku yang normatif serta aspek-aspek positif lainnya yang pada gilirannya
individu dapat mengembangkan potensi diri serta dapat meningkatkan perilaku
komunikasi antarpribadi yang dimiliki.
2.5 Asas-asas Bimbingan kelompok
1) Asas
kerahasiaan
Para anggota harus
menyimpan dan merahasiakan informasi apa yang dibahas dalam kelompok, terutama
hal-hal yang tidak layak diketahui orang lain
2) Asas
keterbukaan
Para anggota bebas dan
terbuka mengemukakan pendapat, ide, saran, tentang apa saja yang yang dirasakan
dan dipikirkannya tanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.
3) Asas
kesukarelaan
Semua anggota dapat
menampilkan diri secara spontan tanpa malu atau dipaksa oleh teman lain atu
pemimpin kelompok.
4) Asas
kenormatifan
Semua yang dibicarakan
dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma-norma dan kebiasaan yang
berlaku.
2.6 Tahap-tahap Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok
berlangsung melalui empat tahap. Menurut (Prayitno, 1995: 44-60) tahap-tahap
bimbingan kelompok adalah sebagai berikut:
a) Tahap Pembentukan
Tahap ini merupakan
tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkakan diri kedalam
kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling
memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan
masing-masing anggota. Pemimpin kelompok menjelaskan cara-cara dan asas-asas
kegiatan bimbingan kelompok. Selanjutnya pemimpin kelompok mengadakan permainan
untuk mengakrabkan masing-masing anggota sehingga menunjukkan sikap hangat,
tulus dan penuh empati.
b) Tahap Peralihan
Sebelum
melangkah lebih lanjut ke tahap kegiatan kelompok yang sebenarnya, pemimpin
kelompok menjelaskan apa yang akan dilakukan oleh anggota kelompok pada tahap
kegiatan lebih lanjut dalam kegiatan kelompok. Pemimpin kelompok menjelaskan
peranan anggota kelompok dalam kegiatan, kemudian menawarkan atau mengamati
apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya. Dalam
tahap ini pemimpin kelompok mampu menerima suasana yang ada secara sabar dan
terbuka. Tahap kedua merupakan “jembatan” antara tahap pertama dan ketiga.
Dalam hal ini pemimpin kelompok membawa para anggota meniti jembatan tersebut
dengan selamat. Bila perlu, beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap
pertama seperti tujuan dan asas-asas kegiatan kelompok ditegaskan dan
dimantapkan kembali, sehingga anggota kelompok telah siap melaksankan tahap
bimbingan kelompok selanjutnya.
c) Tahap kegiatan
Tahap ini
merupakan kehidupan yang sebenarnya dari kelompok. Namun, kelangsungan kegiatan
kelompok pada tahap ini amat tergantung pada hasil dari dua tahap sebelumnya.
Jika dua tahap sebelumnya berhasil dengan baik, maka tahap ketiga itu akan
berhasil dengan lancar. Pemimpin kelompok dapat lebih santai dan membiarkan
para anggota sendiri yang melakukan kegiatan tanpa banyak campur tangan dari
pemimpin kelompok. Di sini prinsip tut wuri handayani dapat
diterapkan. Tahap kegiatan ini merupakan tahap inti dimana masing-masing
anggota kelompok saling berinteraksi memberikan tanggapan dan lain sebagainya
yang menunjukkan hidupnya kegiatan bimbingan kelompok yang pada akhirnya
membawa kearah bimbingan kelompok sesuai tujuan yang diharapkan.
d) Tahap Pengakhiran
Pada tahap ini
merupakan tahap berhentinya kegiatan. Dalam pengakhiran ini terdapat kesepakatan
kelompok apakah kelompok akan melanjutkan kegiatan dan bertemu kembali serta
berapa kali kelompok itu bertemu. Dengan kata lain kelompok yang menetapkan
sendiri kapan kelompok itu akan melakukan kegiatan. Dapat disebutkan
kegiatan-kegiatan yang perlu dilakukan pada tahap ini adalah:
(1) Penyampaian
pengakhiran kegiatan oleh pemimpin kelompok
(2) Pengungkapan
kesan-kesan dari anggota kelompok
(3) Penyampaian
tanggapan-tanggapan dari masing-masing anggota kelompok
(4)
Pembahasan kegiatan lanjutan
(5)
Penutup
2.7 Langkah-langkah
pelaksanaan bimbingan kelompok
a. Masing-masing
anggota kelompok dalam bimbingan kelompok secara bebas dan sukarela
berbicara, bertanya, mengeluarkan pendapat, ide, sikap, saran, serta perasaan
yang dirasakannya pada
saat itu.
b. Mendengarkan
dengan baik bila anggota kelompok berbicara, yaitu setiap salah satu anggota
kelompok menyampaikan tanggapan, maka anggota kelompok lainnya
memperhatikannya, karena dengan memperhatikannya maka akan mudah untuk saling
menanggapi pendapat lain, sehingga akan menumbuhkan dinamika kelompok di dalam
kegiatan bimbingan kelompok tersebut.
c. Mengikuti
aturan yang ditetapkan oleh kelompok dalam bimbingan kelompok, yaitu dalam
pelaksanaan bimbingan kelompok dibuat semacam kesepakatan antara pemimpin
kelompok dengan para anggota kelompok, sehingga diharapkan dalam pelaksanaan
kegiatan tersebut dapat berjalan sesuai yang diharapkan oleh kedua belah pihak.
d. Mengadakan
evaluasi setelah kegiatan bimbingan kelompok berakhir. Evaluasi
dalam hal ini dilakukan pemimpin kelompok setiap berakhirnya pertemuan dan
evaluasi secara keseluruhan setiap pertemuan kelompok.
2.8 Teknik layanan bimbingan kelompok
Menurut Willis
(2007:15) teknik bimbingan kelompok adalah (a) Teknik diskusi: diikuti oleh
beberapa siswa satu kelas. Dipimpin oleh guru atau siswa yang cerdas.
Pembicaraan berkisar persoalan bersama, seperti prestasi belajar, peningkatan
kreativitas dalam seni, kerja sosisal dan lain-lain. (b) Dinamika kelompok:
jumlah anggotanya paling banyak 8-10 orang. Proses diskusi berjalan dinamik,
artinya setiap orang bebas mengemukakan pendapat atau mendiskusikan masalahnya.
Anggota lain berupaya memberikan urun pendapat bagi pemecahan masalah. Pada
umumnya dinamika kelompok mempunyai topik yang sama. (c) Ceramah: bimbingan
kelompok yang menggunakan metode ceramah dapat dilakukan oleh konselor,
guru-guru, pimpinan dan tokoh masyarakat. Tujuannya adalah agar dapat membantu
anggota dapat mengubah perilakunya dalam memecahkan persolan hidup. Biasanya
ceramah diikuti dengan diskusi agarpermasalan anggota lebih mendalam. (d)
Program homeroom: suatu program kelompok yang direkayasa pemimpin kelompok agar
tercipta suasana seperti dirumah yaitu bebas, terbuka, santai dan blak-blakkan.
Dengan demikian para anggota dapat mengemukakan aspirasi dan kecemasannya
secara bebas dan tanpa merasa takut dimarahi. (e) Sosiodrama: metode kelompok
dengan menggunakan media drama sosial ataukehidupan nyata di masyarakat yang
susuai dengan masalah yang di hadapi anggota. Dengan demikian mereka dapat
belajar bagaimana akibat sesuatu perbuatan yang negatif atau bagaimana cara
berbuat baik. (f) Psikodrama: suatu metode kelompok dengan menggunakan suatu
media drama kejiwaan yang menyentuh sehingga dampak positif bagi perubahan
perilaku anggota kelompok. Lamanya psikodrama lebih kurang 10 menit. (g)
Karyawisata: metode kelompok ini amat bermakna bagi anggota yang mengalami
stres karena kelamaan proses balajar atau bekerja. Dengan berwisata akan
terjadi pelepasan energi lelah, cemas dan duka. Kemudian diantara mereka akan
lebih akrab dan mengeluarkan segala isi hatinya dengan lawan bicara. Pembimbing
biasa memanfaatkan media ini untuk memperoleh informasi langsung mengenai
kekurangan dan kelebihansiswa dan bagaimana cara mengatasi menurut versi para
anggota kelompok. (h) Metode tugas: dengan memberi tugas bersama/berkelompok
akan terjalin kerjasama, setia kawan, persahabatan dan juga pelepasan uneg-uneg
yang kurang disenangi dengan cara bebas. Tugas tersebut berupa pekerjaan
tangan, menggambar bersama, karangan, obsevasi, laporan dan sebagainya.
Sedangkan menurut
pendapat Tohirin (2007:173) ada beberapa teknik yang bisa diterapkan dalam
layanan biambingan kelompok yaitu teknik umum dan permainan kelompok.
a.
Teknik umum
Dalam
teknik ini dilakukan pengembangan dinamika kelompok, meliputi
1. Komunikasi multi arah secara aktif, dinamis
dan tebuka,
2. Pemberian rangsangan untuk menimbulkan
inisiatif dalam pembahasan, diskusi, analisis, dan pengembangan argumentasi,
3. Dorongan minimal untuk menetapkan respons dan
aktivitas anggotakelompok,
4. Penjelasan, pendalaman, dan pemberian contoh
untuk lebih memantapkan analisis, argumentasi, dan pembahasan,
5. Pelatihan untuk membentuk pola tingkah laku
baru yang dihendaki.
b. Permainan kelompok
Permainan dapat
dijadikan sebagai salah satu teknik dalam layanan bimbingan kelompok baik dari
selingan maupun sebagai wahana yang memuat materi pembinaan atau materi layanan
tertentu. Teknik pemainan dalam layanan bimbingankelompok harus memenuhi
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sederhana,
2. Menggembirakan,
3. Menimbulkan
suasana rilek dan tidak melelahkan,
4. Meningkatkan
keakraban,
5. Diikuti
oleh semua anggota kelompok.
Dari berbagai teknik
tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa semua teknik bimbingan kelompok
tesebut bisa diterpkan dalam pelaksanaan bimbingan kelompok di sekolah menengah
pertama. Dengan menggunakan teknik yanng bervariasi tersebut pelaksanaan
layanan bimbingan kelompok tidak membosankan, sehingga siswa menjadi tertarik
dan bersemangat untuk berperan serta dalam layanan bimbingan kelompok.
2.9 Keefektifan Layanan
Bimbingan Kelompok Dalam Meningkatkan keterampilan komunikasi
antarpribadi
Komunikasi antarpribadi
merupakan proses kegiatan manusia yang terdiri dari dua orang atau lebih yang
saling bertukar informasi, pengetahuan, pikiran, agar dapat menggugah
partisipasi satu sama lain. Ciri-ciri siswa yang memiliki perilaku
komunikasi antar pribadi yang efektif adalah memiliki keterbukaan (Openess),
yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang diterima di dalam
menghadapi hubungan antar pribadi, dapat berempati (Empathy), yaitu merasakan
apa yang dirasakan orang lain, dukungan (Supportiveness), yaitu situasi yang
terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung efektif, memiliki rasa positif
(positivenes), seseorangharus memiliki perasaan positif terhadap dirinya,
mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi, dan menciptakan situasi
komunikasi kondusif untuk interaksi yang efektif, merasa setara dengan orang
lain (Equality), yaitu pengakuan secara diam-diam bahwa kedua belah
pihak menghargai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk
disumbangkan.
Komunikasi antarpribadi
merupakan hal penting dalam hidup santri, baik dalam lingkungan keluarga,
sekolah maupun lingkungan masyarakat. Lingkungan pesantren adalah
tempat yang paling banyak digunakan santri berinteraksi, sehingga
banyak pula komunikasi antarpribadi dilakukan santri di pesantren. Dengan
komunikasi antarpribadi, santri akan dengan mudah memperoleh pemahaman dari
guru pada saat pembelajaran. Melalui komunikasi antarpribadi pula
santri dapat mengembangkan pengetahuannya, yaitu belajar dari pengalamannya,
maupun informasi yang mereka terima dari guru dan dari lingkungan sekitarnya.
Santri dikatakan
memiliki perilaku komunikasi antarpribadi yang efektif apabila ia mampu
menanggapi informasi yang diterima dengan senang hati dalam menghadapi hubungan
antar pribadi, dapat berempati, artinya mampumerasakan apa yang dirasakan orang
lain, mendukung komunikasi berlangsung efektif, memiliki rasa positif, yaitu
memandang diri dan orang lain secara positif serta menghargai orang
lain. Santri menganggap bahwa pertemuan komunikasi merupakan
hal yang menyenangkan bagi santri, bila berkumpul dengan satu
kelompok merasa setara, gembira dan terbuka.
Konseling kelompok
adalah bimbingan yang diberikan kepada sekelompok individu yang mengalami masalah
yang sama dengan memanfaatkan dinamika kelompok yaitu interaksi masing-masing
anggota yang menghidupkan proses kegiatan bimbingan
kelompok. Melalui dinamika kelompok tersebut diharapkan
masing-masing anggota memperoleh informasi atau topik-topik yang dibahas
bersama, serta pengetahuan dan pengalaman yang nantinya dapat dikembangkan
secara optimal sesuai dengan tugas perkembangan yang seharusnya dilaksanakan.
Tujuan konseling
kelompok diantaranya adalah setiap anggota kelompok mampu mengeluarkan pendapat,
ide, saran, tanggapan, perasaan, dan lain sebagainya, mampu berbicara di depan
orang banyak, belajar menghargai pendapat orang lain, menjadi akrab satu sama
lainnya, mampu mengendalikan diri dan dapat bertenggang rasa. Dengan
mampu mengeluarkan pendapat, berbicara, menghargai orang lain dan bertenggang
rasa, berarti santri akan dapat dengan mudah bersosialisasi, mudah memperoleh
pemahaman dalam pembelajaran di sekolah, dapat mengembangkan pengetahuannya,
yakni belajar dari pengalamannya, maupun melalui informasi yang mereka terima
dari lingkungannya. Secara otomatis santri telah memiliki komunikasi
antarpribadi yang baik.
BAB
III
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian
bimbingan kelompok dinyatakan efektif dalam meningkatkan keterbukaan
diri santri. Tumbuhnya keterbukaan diri merupakan dampak
dari perilaku komunikasi antarpribadi yang efektif . Komunikasi
antar pribadi efektif jika pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan
bagi santri. Jika santri berkumpul dalam satu kelompok, santri merasa
senang , gembira dan terbuka. Untuk menunjukkan keefektifan tersebut
dilaksanakan melalui kegiatan layanan bimbingan kelompok pada santri.
Dengan demikian layanan
bimbingan kelompok ini diperkirakan efektif dalam meningkatkan perilaku komunikasi
antarpribadi santri. Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa
layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi santri. Kegiatan bimbingan
kelompok ini membahas topik-topik umum atau topik-topik remaja yang menunjang
dalam meningkatkan perilaku komunikasi antarpribadi santri.
DAFTAR
PUSTAKA
AS, Enjang, Drs, Komunikasi
Konseling, Bandung, Nuansa, 2009.
Liliweri, Alo, Komunikasi
Antar Pribadi, Bandung, PT. Citra Aditya Bakti, 1997.
Prayitno
dan Amti, Erman, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta:
Rineka Cipta, 1994.
http://peonx.blogspot.com/2014/03/makalah-konseling-kelompok.html,
27 Mei 2015, 01 : 04.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar